Hilangnya Motif Anyaman Tradisional Lama

Dengan banyaknya permintaan luar dan perkembangan yang semakin  maju, maka  pengrajin dituntut untuk membuat inovasi dalam segi bentuk dan fungsi serta motif anyaman, sehingga dalam kurun waktu yang berangsur-angsur anyaman tradisional klasik mulai dilupakan oleh pengrajin generasi penerus, selain itu penetrasi budaya luar mengenai alat-alat modern yang lebih relevan digunakan pada zaman sekarang ini membuat benda produksi anyaman mulai berkurang sehingga mempunyai dampak hilangnya motif anyaman secara langsung. Benda-benda produk dari anyaman mulai dilupakan dan telah tergantikan dengan material lain yang lebih baik dan tahan lama, contohnya bilik bambu diganti dengan tembok yang lebih kuat dan kokoh, sehingga banyak masyarakat Rajapolah berpaling pada bahan ini dikarenakan mereka lebih merasa aman. Beberapa kemasan seperti besek, pipiti, dingkul, tolombong, telah diganti oleh kemasan lebih praktis dalam pembuatannya, besek diganti dengan kardus makanan atau plastik Styrofoam, sedangkan dingkul yang digunakan untuk membawa pakaian pada jaman dahulu yang diletakan diatas kepala, kini digantikan oleh tas koper.

Gaya hidup dan sifat konsumen masyarakat Indonesia hanya sebagai pengguna, yang memilih yang sudah tersedia dan sangat bebas dalam menentukan pilihan, tidak terkait dengan musim dan tempat. Selain itu praktek budaya yang dianut oleh masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakat di negara lain, menurut Jean Francois Lyotard (1990) “Nilai-nilai budaya yang berlaku berbeda di setiap wilayah. Nilai yang berlaku di suatu negara belum tentu berlaku atau bahkan bisa bertolak belakang dari nilai yang berlaku di negara lain tersebut”. Budaya mempengaruhi konsumen dalam sudut pandang terhadap dirinya dan orang lain serta mempengaruhinya dalam berperilaku. Oleh karenanya, budaya sangat mempengaruhi bagaimana konsumen bereaksi atau berperilaku terhadap produk atau inovasi tertentu.

Pada budaya lain mengenal adanya fashion sesuai musim dalam menggunakan suatu bentuk penampilan diri dan ragam seni rupa, misalnya pada negara lain penggunaan tas anyaman, sandal anyaman, dan topi anyaman memiliki musim fashion tertentu, tempat tertentu dan digunakan pada event tertentu contohnya saat berlibur dipantai, saat musim panas, jika sudah terlepas dari musim dan event tersebut maka tidak akan menggunakan barang-barang anyaman tersebut. Selain itu di negara lain memiliki sebuah bentuk kehidupan yang tidak disadari telah melekat pada setiap individu dalam hal penggunaan benda-benda, yaitu adanya kelompok referensi atau acuan, menurut Sigmund Freud (1990) kelompok referensi atau acuan adalah individu atau kelompok, yang nyata atau khayalan yang memiliki pengaruh evaluasi, aspirasi, bahkan perilaku terhadap orang lain.

Kelompok acuan (yang paling berpengaruh terhadap konsumen) mempengaruhi orang lain melalui norma, informasi, dan melalui kebutuhan nilai ekspresif konsumen. Kelompok ini merupakan kelompok yang biasa menjadi trendsetter di masyarakat, kelompok acuan dapat berbentuk organisasi formal yang besar, terstruktur dengan baik, memiliki jadwal pertemuan rutin, dan karyawan-karyawan yang tetap. Di lain pihak, kelompok acuan juga dapat berbentuk kelompok kecil dan informal. Kelompok acuanterdiri dari orang-orang yang dikenal secara mendalam (seperti keluarga atau sahabat) atau orang-orang yang dikenal tanpa ada hubungan yang mendalam (klien) atau orang-orang yang dikagumi (tokoh atau artis). Karena orang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki kemiripan, mereka sering kali terpengaruh dengan mengetahui bagaimana orang lain menginginkan mereka menjalani hidup.  Dari kondisi yang telah dikemukakan diatas, memberikan gambaran kenapa anyaman memiliki konsumen mancanegara lebih banyak dibandingkan konsumen domestik, karena pada gaya hidup konsumen luar negeri, anyaman dan benda pakai lainnya memiliki musim, tempat dan waktu penggunaan.

Adanya kelompok referensi yang memiliki pengaruh yang cukup kuat, sehingga meskipun anyaman merupakan barang buatan tangan dan terlihat tradisional tidak terjadi adanya  transformasi budaya, karena ada kondisi bahwa anyaman merupakan suatu trend mode di satu waktu dan jika terus berlanjut, maka trend menggunakan anyaman akan menjadi salah satu kebudayaan yang melekat pada diri dan bangsa yang mengadopsinya, sedangkan di Indonesia terjadi sebuah transformasi budaya, salah satu hal yang mempengaruhi transformasi budaya adalah kebosanan, ini merupakan salah satu faktor kenapa anyaman dilupakan, karena di Indonesia anyaman di gunakan dalam kehidupan sehari hari, selain itu fungsi dari anyaman itu sendiri telah tergantikan oleh benda-benda modern dengan fungsinya yang sama, lebih tahan lama dan punya keunggulan lebih dibandingkan benda buatan tangan. Kurangnya dokumentasi mengenai benda budaya dari pemerintah dan masyarakat sekitar, menambah cepat terlupakannya motif anyaman. Hal ini dikarenakan benda anyaman merupakan benda sehari-hari dan dianggap bukan merupakan benda budaya yang memiliki filosofi, namun merupakan sebagai alat bantu kehidupan manusia sehari-hari.

Recent Posts :

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: