KERAJINAN TANGAN RAJAPOLAH-TASIKMALAYA-JAWABARAT

Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya yang sangat beraneka ragam, ini merupakan daya tarik tersendiri yang dimiliki Indonesia. Kebudayaan yang timbul merupakan kebudayaan yang diturunkan secara turun temurun, yang dapat dikatakan sebagai kearifan lokal, kebudayaan yang terdapat di Indonesia memiliki karakter yang berbeda sesuai adat dan aturan yang berlaku di masyarakat,

Salah satu tradisi budaya yang telah berkembang secara turun temurun yaitu adalah kerajinan anyaman, anyaman merupakan suatu produk yang dihasilkan dari kegiatan mengatur bilah-bilah seperti pandan, bambu, dan bahan lainnya tindih menindih atau silang menyilang.

Menurut beberapa sumber keterampilan anyaman masuk ke Indonesia sejak beberapa ribu tahun lalu, ketika migrasi besar-besaran penduduk dari dataran Asia Tengah menuju ke Nusantara, keterampilan itu terus berlanjut hingga sekarang. Di beberapa tempat di Indonesia anyaman berkembang menjadi suatu komoditas yang menjanjikan, namun beberapa sumber mengatakan bahwa anyaman merupakan kebudayaan asli bangsa melayu, termasuk Indonesia, tanpa adanya pengaruh dari dunia luar. Di wilayah Jawa Barat tepatnya kecamatan Rajapolah, merupakan komoditas yang berharga, karena kebanyakan penduduknya merupakan pengrajin anyaman yang hidup dari menganyam, sehingga Rajapolah berkembang menjadi salah satu sentra Industri anyaman

Selama bertahun-tahun Rajapolah telah menjadi ikon pariwisata dan belanja cinderamata di daerah Tasikmalaya, jenis anyaman Rajapolah terbagi menjadi 3 jenis yaitu mendong, pandan, dan bambu, setiap anyaman memiliki karakteristik dalam teknik pembuatannya maupun motifnya. Motif anyaman Rajapolah merupakan motif yang dipercayai merupakan motif yang dibuat oleh suku Sunda, contohnya saja pada bambu, motif anyaman bambu yang beredar di masyarakat Rajapolah sama dengan motif-motif yang beredar di Suku Sunda pada daerah lain, seperti Garut dan Cirebon hanya saja beberapa anyaman memiliki panggilan yang berbeda walaupun bentuknya sama, ini dipengaruhi oleh adat istiadat yang berkembang di Masyarakat, keadaan alam dan status kekerabatan pada suku Sunda yang mendiami suatu daerah.

Dalam perkembangan anyaman, tidak adanya pewarisan formal ilmu menganyam dan kurangnya dokumentasi mengenai pola anyaman di Rajapolah merupakan salah satu bukti kurangnya pelestarian dan kecintaan kita terhadap budaya Indonesia. Banyak pengrajin membuat motif anyaman hanya karena mengejar keuntungan, banyak sekali motif anyaman Rajapolah yang tata cara penamaannya didapat dari mengarang nama saja, sehingga banyak motif anyaman Rajapolah dengan bentuk yang sama, beredar dalam satu tempat, tapi memiliki nama yang berbeda. Jika hal ini dibiarkan maka anyaman Rajapolah tidak memiliki karakteristik dan ciri khas, sehingga tidak menutup kemungkinan anyaman Rajapolah hanya akan menjadi sesuatu yang biasa, dan hal ini mungkin akan menjadi suatu masalah di kemudian hari seperti batik yang diklaim oleh negara lain karena menjadi sesuatu yang biasa bagi kita

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers

%d bloggers like this: