Sejarah Kerajinan Tangan

Pasca Perang Dunia II, industri kerajinan tangan dengan berbagai keunggulan seni dan budayanya mendapat perhatian serius dari berbagai negara. 10 Juni 1964, untuk pertama kali digelar pertemuan tingkat dunia yang dihadiri para ahli lebih dari 40 negara. Dalam pertemuan tersebut para peserta sepakat membentuk lembaga dunia untuk industri kerajinan tangan. Lembaga ini berada di bawah UNESCO. Dengan terbentuknya lembaga ini, industri kerajinan tangan dan tradisional mendapat perhatian serius di sektor budaya dan ekonomi internasional.

Republik Islam Iran dengan kekayaan budaya yang dimilikinya termasuk negara pertama yang menjadi anggota Organisasi Kerajinan Tangan Dunia. Mengingat beragam industri kerajinan tangan yang dimilikinya, Iran saat ini berada sejajar dengan Cina dan India serta menjadi salah satu dari tiga poros utama industri kerajinan tangan dunia.

Berbagai bukti menunjukkan bahwa industri kerajinan tangan memiliki sejarah yang panjang. Industri ini muncul pertama kali di zaman batu. Pada zaman tersebut, berbagai peralatan hidup manusia mulai dari tombak untuk berburu binatang dan alat-alat masak seperti piring terbuat dari batu. Secara perlahan dan seiring kemajuan yang diperoleh manusia, maka mereka mulai memanfaatkan bahan-bahan alam seperti tanah liat, kayu, biji besi, tembaga, sutra dan bulu-bulu binatang serta serat tanaman. Oleh karena itu, industri keramik memiliki sejarah yang panjang dan berumur lebih dari empat ribu tahun. Menurut para ahli, era Renaissance atau pembaharuan sangat berpengaruh bagi kesempurnaan seni kerajinan tangan.

Selain sisi konsumsi, nilai seni sebuah kerajinan tangan juga sangat diperhatikan. Dengan kata lain, pada zamannya kerajinan tangan merupakan industri dan sumber penghasilan. Namun seiring kemajuan teknologi, nilai historis dan budaya sebuah hasil kerajinan tangan menjadi lebih menonjol. Menurut para pengamat, industri kerajinan tangan selain menjaga nilai-nilai keaslian budaya sebuah masyarakat juga memberikan nilai ekonomis. Sejak pertama kali muncul, industri kerajinan tangan telah memberikan lapangan kerja yang besar bagi masyarakat. Selain itu bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap, industri ini juga memberikan penghasilan sampingan, khususnya bagi mereka yang hidup di pedesaan.

Dewasa ini, meski sektor industri mengalami perkembangan hebat di berbagai penjuru dunia, namun industri kerajinan tangan bukan hanya mampu bertahan bahkan semakin mendapat perhatian serius masyarakat. Iran sebagai negara berperadaban tua memiliki kekayaan seni yang telah berusia tujuh ribu tahun. Budaya tua ini menjadi identitas utama rakyat Iran dan menjadi kesempatan baik untuk memajukan beragam seni serta budaya di negeri ini.

Sejak tiga dekade terakhir, Iran terus berupaya memajukan sektor ini dan dengan bersandar pada kekayaan budaya Islam yang dimilikinya, Iran berhasil mencapai kemajuan yang cukup berarti di sektor industri kerajinan tangan. Dan hal itu diakui oleh masyarakat internasional.

Namun demikian, maraknya pasar kerajinan tangan di dunia juga memiliki berbagai kendala. Di antara kendala serius yang mengancam sektor ini adalah pemalsuan sebuah produk yang dilakukan oleh negara lain. Hal ini mendorong diadakannya upaya untuk mencegah merebaknya pemalsuan produk kerajinan tangan. Di antara upaya tersebut adalah pemberian hak paten berbagai hasil kerajinan tangan berbagai negara oleh sebuah lembaga internasional. Lembaga ini sedikitnya telah mampu menjawab kekhawatiran produsen industri kerajinan tangan.

Oleh karena itu pada tahun 2001 dibentuklah hak paten yang dikeluarkan oleh UNESCO untuk melindungi hak produsen industri kerajinan tangan. Pada tahun 2007 Iran bergabung dengan lembaga ini. Jelas bahwa tidak seluruh kerajinan tangan memiliki kelayakan untuk mendapat hak paten dari UNESCO. Karena itulah lembaga ini menentukan sejumlah kriteria dalam hal ini. Di antaranya adalah sebuah hasil kerajinan tangan harus menjaga nilai-nilai budaya, penuh kreatifitas, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Oktober tahun lalu sebuah konferensi terkait hak paten UNESCO yang digelar di Isfahan, Iran dan dihadiri berbagai juri dan ahli dari Belanda, Denmark, Malaysia, Thailand dan Perancis menjadi kesempatan bagi Iran untuk menampilkan produknya. Pertemuan tersebut juga menjadi ajang bagi Tehran untuk bersaing dengan negara-negara lain. Seniman Iran sendiri hingga kini berulangkali berhasil mendapatkan penghargaan dan hak paten UNESCO. Jumlah karya mereka pun meingkat dari enam karya menjadi 45.

Kota Isfahan yang juga menjadi tempat lahirnya seni dan seniman berhasil memperoleh 22 penghargaan dan hak paten dari UNESCO. Para juri internasional menilai perolehan penghargaan dan hak paten yang cukup besar oleh kota Isfahan sangat menakjubkan. Hal lain yang patut diperhatikan adalah bahwa hasil kerajinan tangan bukan sekedar peninggalan bersejarah dan hiasan dinding.

Karya ini diproduksi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat juga memenuhi kebutuhan manusia modern serta memberikan identitas baru bagi mereka. Mengingat sejarah panjang dan urgensitas kerajinan tangan di sektor budaya, sejarah dan agama bagi setiap bangsa, diharapkan metode untuk memajukan industri ini dapat segera ditemukan sehingga kerajinan ini mampu diproduksi secara besar-besaran. ( dikutip dari http://indonesian.irib.ir )

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: