Besek dan Kerajinan Anyaman Bambu yang Mulai Tersingkir

– Anda pernah mampir ke kabupaten Brebes dan membeli telur Asin? Jika pernah pasti Anda mendapatkan telur asin itu ada yang dikemas dengan wadah terbuat dari anyaman bambu. Wadah anyaman bambu ini dikenal dengan sebutan besek. Di daerah Kuningan, Cirebon dan Majalengka ada juga yang menyebutnya dengan nama pipiti dan totombo. Di kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dikenal juga dengan nama Kempluk. Di daerah Anda namanya apa?
Akhir November 2011 kemarin saya sengaja jalan-jalan ke sebuah desa di kecamatan Rajagaluh Majalengka. Saya ingin mencari wadah besek dari anyaman bambu ini untuk kemasan oleh-oleh. Setelah mencari-cari info ke orang-orang yang saya temui, mereka menyarankan agar saya datang ke sebuah desa di kecamatan Rajagaluh, Majalengka.

Saat masuk ke desa ini memang masih ada ibu-ibu dan anak muda yang sedang asyik menganyam bambu. Jumlahnya tidak begitu banyak. Apa yang mereka buat? Ternyata yang saya temui mereka bukan sedang membuat besek. Kebanyakan malah membuat kerajinan anyaman bambu dengan bentuk yang berbeda. Di daerah ini kerajinan tangan yang sedang mereka buat dinamakan Boboko, Ceceting, dan Dudukuy. Boboko dan Ceceting biasanya digunakan sebagai wadah-wadahan perlengkapan rumah tangga. Sementara Dudukuy adalah sejenis topi dari anyaman bambu yang digunakan para petani ke sawah.

Pekerjaan membuat kerajinan anyaman bambu ini sudah mereka kerjakan bertahun-tahun. Jadi pasti sudah terbiasa. Jari-jari mereka sudah lihat menganyam lembaran bambu menjadi sebuah anyaman bermotif. Mereka menganyam lembar-lembar bambu ini dengan rapih sekali dan dalam waktu yang cepat. Sebuah pekerjaan yang belum tentu Anda dan saya bisa melakukannya. Ironisnya karya mereka dihargai sangat murah. Terutama oleh para tengkulak. Berapa? Untuk Dudukuy dihargai Rp 6.000. Mendengarnya saya kaget. Ini harga yang tidak sesuai dengan tingkat kerumitan pembuatannya. Belum lagi resiko terluka akibat tersayat lembaran bambu yang sewaktu-waktu bisa mengiris tangan mereka.

Di mata saya benda-benda ini adalah sebuah karya seni. Karya yang seharusnya dihargai dengan nominal uang yang jauh lebih mahal. Sehingga ekonomi para pengrajin bisa membaik. Dengan harga lebih mahal dan keuntungan yang lebih besar tentu bisnis kerajinan mereka akan tetap berkelanjutan. Anak cucu kita pun tetap bisa mengenal dan memanfaatkannya.

Sudut pandang saya tentu berbeda sekali ketika benda-benda kerajinan tangan ini dilihat mata ibu-ibu. Mereka lebih melihatnya dari sisi fungsi. Karena fungsinya hanya sebagai wadah dan penangkal panas matahari harga 40 ribu langsung divonis mahal. Hmmm, kenapa ya kerajinan asli yang menjadi bagian budaya daerah selalu ‘terbunuh’ oleh masyarakatnya sendiri?

Sebab harganya murah sekali banyak para pengrajin yang beralih profesi. Bahkan tidak mewariskan keahlian menganyam bambu ini ke anak-anak mereka. Keahlian ini dipandang bukan pekerjaan yang menjanjikan lagi. Job yang gak keren. Ndeso. Kalah gengsi dengan pekerjaan lain. Jadi pasti akan makin sulit menemukan benda-benda kerajinan tangan anyaman bambu ini.
Termasuk besek. Rupanya Besek dan kerajinan anyaman bambu mulai tersingkir. Buktinya, saya harus mencari lagi ke desa lain. Alhamdulillah saya berhasil menemukan sekelompok pengrajin besek atau totombo. Anak muda? Bukan. Tapi ibu-ibu setengah baya. Jumlahnya hanya segelintir orang. Saya salut mereka masih mau membuat produk kerajinan yang dihargai oleh banyak orang dengan nilai nominal murah sekali. Ibu-ibu ini menganyam besek sebagai pengisi waktu luang. Ada juga yang menjadikannya sebagai sumber penghasilan untuk menambah biaya dapur. Bukan sebagai bisnis serius yang harus tetap dikembangkan lagi kreasinya dan diangkat gengsinya. Sehingga daya tawar jualnya pun jauh lebih tinggi.

Posisi tawar yang lemah ini semakin lemah dengan serbuan wadah sejenis berbahan plastik. Mungkin sering Anda temui di dapur. Besek dari plastik sudah banyak digunakan untuk mengemas makanan di pesta pernikahan dan syukuran lainnya. Selain harganya yang sedikit lebih murah besek dari plastik ini stoknya selalu tersedia. Berbeda dengan stok besek anyaman bambu yang sudah mulai sulit ditemui lagi di pasaran. Tentu masyarakat termasuk ibu-ibu rumah tangga akan membeli wadah dari plastik.

Siapakah yang bisa membuat kerajinan tradisional ini tetap ada? Tentu kita sendiri sebagai bangsa Indonesia. Salah satu caranya belilah dengan harga yang lebih tinggi. Ini sebagai bentuk apresiasi kita terhadap karya seni warisan kekayaan bangsa. Melihatnya tidak hanya sebatas dari fungsi, bahan baku, dan siapa yang membuatnya. Sehingga Besek dan kerajinan anyaman bambu lainnya tetap ada dan sejajar dengan karya asli anak bangsa. Seperti halnya batik dan ketupat. Sedihnya saya pernah menemukan video di You Tube tentang cara pembuatan ketupat. Siapa yang membuat video ini? Orang Malaysia. Huff! Jangan sampai besek dan kerajinan anyaman bambu mulai tersingkir bahkan hilang dicolong orang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 35 other followers

%d bloggers like this: