Ketua SRMI Kabupaten Tasikmalaya Rampungkan Pertemuan Koordinasi Revitalisasi Posyandu Antar Kecamatan di Rajapolah

Tasikmalaya, Duta priangan – Pelaksanaan pertemuan koordinasi revitalisasi posyandu Bantuan Sosial (Bansos) Gubernur Jabar untuk Kabupaten Tasikmalaya yang dilaksanakan belakangan hari secara “marathon”, rampung sudah sesuai rencana. Pihak pengelola program dalam hal ini LSM-SRMI Kabupaten Tasikmalaya menyudahi kegiatan tersebut di Kecamatan Rajapolah Tasikmalaya pada Selasa (21/2) bertempat di Aula Desa Manggungjaya Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya.
Sebagaimana dilaksanakan ditiap kecamatan lainnya, kali ini pun Ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Nandang Abdul Ajiz menyerahkan secara langsung symbolic Bansos Gubernur Jabar tersebut yang diterima oleh salah seorang kader posyandu mewakili para kader se wilayah Kecamatan Rajapolah Tasikmalaya.
Selaku pengelola, Ketua SRMI Kabupaten Tasikmalaya Nandang Abdul Ajiz dalam kata sambutannya dihadapan forum pertemuan koordinasi revitalisasi posyandu se Kecamatan Rajapolah menggaris bawahi bahwa ini kecamatan terakhir sepanjang kegiatan kami dalam rangka membangun koordinasi bersama para kader posyandu dalam rangka mengawal program Bansos Gubernur Jabar dalam bentuk hibah untuk revitalisasi posyandu diseluruh pelosok Kabupaten Tasikmalaya.
“Alhamdulillah kami patut bersyukur kepada yang maha kuasa, bahwa sepanjang kami melaksanakan kegiatan dan mengelola program ini telah berjalan lancar, sukses tanpa meninbulkan ekses” ujar Nandang.
Masih disampaikan Nandang, “Kini kader posyandu yang tersebar diseluruh pelosok Kabupaten Tasikmalaya tinggal menunggu pendistribusian hadwere seperti Dacin, Freeport, Microtoise, Timbangan Bayi, Balok SKDN, Buku KIA, Buku System Info Posyandu dan lainnya” imbuhnya.
“Sehubungan jumlah para kader posyandu yang kami kelola hampir lebih 2000 dan tersebar diseluruh pelosok Kabupaten Tasikmalaya, maka para kader diminta untuk bersabar. Dan kami pastikan pendistribusian hadwere dimaksud akan rampung seluruhnya paling lambat hingga April mendatang” pungkas Nandang. (Anton)

Beberapa Bantuan Pemerintah Bidang Pertanian di Desa Dawagung Rajapolah Tasikmalaya Terkesan Mubazir

Tasikmalaya, Duta Priangan – Ini salah satu potret penghamburan uang rakyat yang nota bene bantuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun dimana salahnya, apakah pihak perencana program yang kurang memahami kondisi sesuai keinginan penerima manfaat, atau pihak pelaksana teknis program yang mengerjakannya asal jadi tanpa memperhatikan masalah kedepan yang penting besar keuntungan, atau bisa jadi sikap dan prilaku para penerima manfaat setelah sadar pihaknya telah dijadikan objek pemain profosal, dan banyak lagi kemungkinan yang diungkapkan berbagai kalangan, yang pasti benda mati yang bernilai puluhan juta ini hanya sebuah juntrungan kemubaziran program yang akhirnya menjadi cemoohan warga masyarakat sekitar, kecuali mereka yang diduga kuat telah banyak mencicipi kenikmatan dari program bantuan pemerintah bidang pertanian ini. Dua item bantuan dimaksud adalah 3 unit Sumur Dangkal yang terletak 1 unit di Kp. Dawajaya dan 2 unit di Kp. Cirangkong, serta 1 unit bangunan Lumbung Padi di Kp. Nagrog yang pengelolaannya dibawah Gapoktan Tni Mukti Desa Dawagung Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya.

Bangunan Sumur Dangkal yang terletak KWT Rahayu Kp. Cirangkong dimaksud hingga kini tak ubahnya bangunan pembakaran sampah. Padahal, proyek bantuan yang menyedot anggaran puluhan juta uang rakyat ini tidak sama sekali memberikan manfaat sebagaimana diharapkan dari maksud dan tujuan program dimaksud. Menurut warga sekitar, sumur yang memang sangat diharapkan untuk menanggulangi krisis air di sekitar 6 ha areal lahan pertanian tersebut sejak awal tidak pernah berfungsi, hal ini diduga ada penyimpangan spesifikasi teknis. Pasalnya dua proyek sumur yang dibangun dihamparan yang sama, dua-duanya tidak berfungsi.

“Oh, iya. Dua sumur itu sejak awal tidak pernah berfungsi. Entah kenapa kami kurang faham hal itu, yang pasti bukankah bantuan sumur tersebut untuk mengatasi masalah air ketika terjadi krisis. Yah, kalo dimusim penghujan sumur tersebut ada airnya, ketika kami kesitan air sumurpun kering, apa artinya dibuatkan sumur itu. Karena kalau musim hujan kebun atau lahan pertanian wargai pun tidak membutuhkan air sumur, warga butuh ketika kemarau datang” ujar salah seorang tokoh warga disana

Bahan Baku Kerajinan Rajapolah

This slideshow requires JavaScript.

Untuk Pemesanan dan Info lebih lanjut hubungi 085222308405

Wisata Rumpun Angklung Rajapolah

Kesenian Badeng berada di desa Tanjung mekar kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut ceritera seni Badeng ini berasal dari desa Sukamerah kecamatan Pagerageung.

Seni Badeng ini di pergelarkan pada waktu pesta khitanan, namun pada saat ini kadang-kadang di pergelarkan pada acara­-acara kenegaraan.

Bentuk pertunjukan seni badeng ini didukung oleh 14 orang pemain antara lain: 7 orang juru Angklung, 4 orang juru Dog-dog, 2 orang juru Dog-dog Badeng, seorang juru Angklung Badeng. Sedangkan Angklung yang di pergunakan sejenis dengan Angklung Buncis atau Badud sebanyak 7 buah di mainkan sebagai Angklung melodi namun lagunya tidak sama dengan lagu pada Angklung Buncis.

Salah seorang tokoh penggarap Angklung Badeng ini adalah bapak Ahri Sobari.

Demikian uraian singkat mengenai Seni Badeng dari desa Tanjung mekar kecamatan Rajapolah kabupaten Tasikmalaya. Menurut penuturan bapak Ahmada Husna Penilik Kebudayaan Kandep Dikbud Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya.

Kesenian Badeng juga terdapat di kampung Sukabatu desa Sanding Kec. Malangbong Kab. Garut, menurut keterangan dari salah seorang tokoh di daerah tersebut di perkirakan sudah ada sejak abad ke 17.Istilah Badeng sendiri berasal dari kata Pahadreng yang berarti musyawarah, akan tetapi ada juga yang mengatakan berasal dari bahasa Arab yaitu badiun yang berarti aneh. Pencipta dan pembuat waditra Badeng ini adalah Embah Santing, Embah Acok, Embah Arpaen dan Embah Nursaen.

Setiap kali akan mengadakan perge­laran seni badeng, maka penduduk setem­pat terlebih dahulu berjiarah ke makam Embah Acok (kepala desa Sanding) sebagai tanda penghtormatan atas jasanya dalam menciptakan seni Badeng tersebut.

Pada abad 18 seni Badeng di lanjut­kan oleh Madnuki, Djaja, Suminta dan Madja.

Pada abad 19 di lanjutkan oleh Sarkowi dan Naedji. Sedangkan dari tahun 1950 -1970 di lanjutkan oleh Kohri, Saman dan Suherman.

Bentuk pertunjukan dari seni badeng ini di dukung oleh 7 orang pemain yang mempunyai fungsi sebagai berikut : 2 orang penabuh Dog-dog lojor, 1 orang pemegang Angklung Roel, 1 orang pemegang Angklung Kecer, 1 orang pemegang Angklung Indung, 1 orang pemegang Angklung Kencrung, 1 orang juru Kawih. Pemain Dog-dog sambil menabuh kadang-kadang di barengi dengan menari.

Demikian ringkas ceritera mengenai Badeng yang terdapat di kampong Tanjungmekar Kecamatan Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya, menurut penuturan bapak Sukandi, Penilik Kebudayaan Kandep Dikbud Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut.

Lokasi: Desa Tanjung Mekar, Kecamatan Rajapolah

http://www.disparbud.jabarprov.go.id

Seni Anyaman Nusantara

Anyaman bukan sekedar bentuk kerajinan tangan biasa, melainkan sebuah karya seni, tidak hanya cantik tapi juga unik. Tahu eceng gondok? Jenis tanaman yang hidup terapung di permukaan air ini, memang jarang dilirik orang. Bahkan, tanaman tersebut cenderung dibiarkan tumbuh liar memenuhi kawasan perairan. Namun, siapa kira tanaman tersebut mampu menghasilkan benda anyaman cantik, lewat tangan-tangan perajin. Sebut saja tas, vas bunga, hiasan meja, dan lain-lain.

Selain eceng gondok, beberapa jenis tanaman lain seperti, daun lontar, daun pandan, bambu, rotan, rumput, tumbuhan pakis, pelepah pisang hingga plastik, bisa dibuat berbagai macam barang keperluan rumahtangga atau penghias ruangan.

Tentunya, kerajinan dari tanaman berserat itu melalui proses pengeringan, penipisan, serta merajut bahan baku menjadi sebuah benda. Peralatan yang digunakan pun masih terbilang sederhana seperti pisau pemotong, pisau penipis, tang, dan catut (penjepit) bundar.

Selain bahan baku tersebut, terdapat bahan penunjang dan biasa dipakai oleh setiap perajin, antara lain, kain, benang jahit, kancing, batok kelapa, lem, zat pewarna atau pengkilap, pernis, resluiting, tambang, serta karton.

Sementara itu, tercatat tiga jenis anyaman, yakni anyaman datar. Anyaman tersebut dibuat datar, pipih dan lebar. Biasanya digunakan untuk tikar, dinding rumah tradisional, pembatas ruangan dan barang hias lainnya. Kemudian, anyaman tiga dimensi. Jenis ini tidak lagi berbentuk tradisional, tetapi lebih menekankan pada efek seninya, seperti sandal, kursi, tas, lampu lampion atau tempat wadah.

Selanjutnya, makrame. Makrame adalah seni simpul-menyimpul bahan dengan keahlian tangan, dibantu alat pengait, fungsinya seperti jarum. Teknik menyimpul itu dapat membentuk sambungan dan menciptakan pola tertentu. Benda yang dihasilkan dari jenis ini diantaranya, taplak meja, keset kaki, dan souvenir.

Lalu, di mana bisa menemukan karya seni tersebut? hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki kerajinan anyaman. Contohnya kawasan Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Daerah ini terkenal dengan kerajinan anyaman. Produk yang dihasilkan, tikar, anyaman dari bambu, perabotan rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Bila sedang singgah di daerah Banyuwangi, Jawa Timur, jangan lupa mampir ke Desa Gintangan. Dari arah kota Banyuwangi berjarak kurang lebih 25km menuju ke arah selatan, melewati kota Rogojampi. Di sana ada sentra anyaman bambu yang cukup terkenal. Selain bisa membeli produk anyaman, pengunjung juga boleh menyaksikan secara langsung pembuatan kerajinan itu.

Di Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, juga memproduksi anyaman bambu. Bahan baku yang dipilih pun tidak sembarangan, yakni bambu apus. Alasannya tidak lain karena bambu tersebut paling ulet dan lemas untuk membuat anyaman. Para perajin lebih sering membuat besek dan (keranjang).

Sementara, di Sumatera, seperti Aceh, menghasilkan tikar daun pandan. Lalu, di Provinsi Riau. Kerajinan anyaman pandan yang terkenal terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Pelalawan. Di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kota Pekanbaru terkenal banyak dijumpai anyaman rotan, beranjak ke Kabupaten Kuantan Singingi dan Kabupaten Kampar, daerah itu terkenal dengan anyaman bambu dan anyaman pandan, serta Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menghasilkan anyaman pandan.

Beralih ke Kalimantan, tepatnya di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan dan Kecamatan Candi Laras Selatan, terdapat anyaman purun. Pulau Bali pun turut menghasilkan anyaman. Tak ketinggalan Sulawesi Selatan, menghasilkan ragam seni anyaman khas daerah setempat.

Untuk mempromosikan seluruh hasil kriya anyaman ini, tidak sedikit dari perajin mengirimkannya sampai ke luar negeri. Permintaan pun banyak berdatangan mulai dari Malaysia, Jepang, Australia, Belanda dan beberapa negara Timur Tengah. Dibalik pesatnya pemesanan, terselip kendala yang tidak bisa dihindari dari pelaku usaha itu, yaitu keterbatasan bahan baku. Tak pelak, para perajin harus mencari hingga ke luar daerah. Jadi, wajar saja bila harga produk kriya yang ditawarkan lumayan tinggi.

Bagi Anda yang mempunyai kocek lebih, jangan ragu membeli salah satu produk kerajinan anyaman, selain untuk menghiasi rumah atau mempercantik diri, sekaligus menghargai seni bercitarasa Nusantara. Mencintai produk sendiri pun terwujud.

Sumber: Majalah Travel Club

Terminal Rajapolah Sulit Capai Target Retribusi

Tasikmalaya, Pelita
Terminal Rajapokah Kabupaten Tasikmalaya selalu kesulitan mencapai target pendapat retribusi kendaraan angkutan umum yang ditetapkan pemerintah setempat. Pasalnya terminal ini hanya merupakan lintasan bukan terminal transit.

“Sampai saat ini kami selalu kerepotan untuk mencapai target pendapatan dari retribusi beberapa tahun terakhir ini,” kata Kepala Terminal Rajapolah, Memed, kepada Pelita, Sabtu (1/10), diruang kerjanya.

Ia menyebutkan beberapa tahun terakhir Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya membebankan target pendapatan dari retribusi Rp102,29 juta. Hingga saat ini pendapatan Terminal Rajapolah rata-rata Rp8,52 juta per bulan atau Rp2,84 juta per hari.

Kendaraan yang melintas setiap hari, lanjut Memed, terdiri atas sekita 60 unit bis besar, 12 unit bis kecil, dan 30 unit elf. Selain kendaran luar kota, ke terminal tersebut melintas juga 60 hingga 80 unit kendaraan angkutan pedesaan.

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, katanya, menetapkan retribusi angkutan itu masih mengacu kepada Perda nomor 14/2006. Besaran retribusi dalam Perda itu, kendaraan tipe A Rp1.500, tipe B Rp1.000, tipe C Rp500, dan tipe D Rp250.

Terminal Rajapolah merupapkan lintasan jalur dari Tasikmalaya menuju wilayah barat, antara lain Bandung dan Jakarta. Terminal yang berlokasi lebih kurang 500 meter dari jalan raya ini, beroperasi mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Menjelag siang, ujar Memed petugas terminal pindah kejalan raya untuk memungut restibusi kendaran. (ck-221/3)

http://www.pelitaonline.com

Kerajinan Tangan Rajapolah Bermotif Batik Kini Diminati

KabarIndonesia – Kabupaten Tasikmalaya, Batik kini diakui dunia internasional sebagai salah satu ciri budaya bangsa Indonesia sehingga negara lain tidak bisa mengklaim lagi. Dalam upaya mendukung pengakuan dunia tersebut, para perajin usaha kerajinan tangan di Kabupaten Tasikmalaya memanfaatkan peluang itu dengan mengaplikasikan batik ke beberapa jenis handycraf (kerajinan tangan) produksi mereka.

Hal itu dari beberapa gerai di pusat kerajinan rakyat di Rajapolah Kabupaten Tasikmalaya, dimana motif batik sudah bisa ditemui di hampir seluruh kerajinan tangan berbahajam kain maupun anyaman bambu, mendong, pandan, eceng gongok dan lainnya.

“Beberapa minggu terakhir ini, motif batik mulai mendominasi beberapa produk kerajinan tangan khas Tasikmalaya seperti tas, topi, sandal, tempat ponsel dan lainnya. Produk kerajinan tangan bermotif batik yang marak itu ternyata mulai diminati konsumen,” jelas Topan Graha, seorang pemilik gerai kerajinan.

Bahkan pada saat arus balik Lebaran kemarin, menurut Topan, peminat handycraf bermotif batik cukup banyak terutama tas untuk ABG karena harganya terjangkau yakni berkisar Rp.25.000 – Rp.40.000/buah.Adapun harga kerajinan bermotif batik jenis lainnya berkisar antara Rp 10.000 – Rp 75.000 tergantung besar kecil dan bahan bakunya, di samping kualitasnya.

“Produksi tas local kebanyakan berbahan baku pandan, rara, rami dan mendong. Namun kini bergeser dengan tas dari bahan batik karena memang mulai diminati. Kondisi ini memberi peluang usaha bagi para perajin sekaligus turut melestarikan keberadaan batik,” tutur Topan Graha.

Buah tangan acara pernikahan

This slideshow requires JavaScript.

Berilah tamu anda buah tangan yang bernilai seni tinggi agar lebih berkesan di acara pernikahan anda..
kami menyediakan buah tangan untuk tamu yang hadir di pernikahan
buat lah acara pernikahan anda lebih berkesan dengan buah tangan benilai seni ini

kami pun menerima pesanan design yang anda buat sendiri

untuk pertanyaan lebih lanjut anda bisa hubungi

085222308405

PRODUK TAS BATIK

This slideshow requires JavaScript.

pemesanan di lakukan di 085222308405

^-^

Batik Tasikmalaya

Kali ini kita akan mengulas tentang Batik Priangan, yang tersebar di Tasikmalya, Garut, dan Ciamis. Batik ini juga merupakan bagian dari Batik Tatar Sunda bersama dengan Batik dari Cirebon dan Indramayu. Perbedaan hanya terdapat pada warna dan motif, pada Batik Cirebon yang sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan warnanya lebih cerah dan motifnya kebanyakan mengambil tema laut seperti ganggang. Dan pada Batik priangan yang sebagian besar masyarakatnya agraris, berprofesi sebagai petani, lebih menonjolkan motif yang bertema agraris seperti padi, burung bangau, warnanya pun masih cerah tetapi ada daerah yang lebih menonjolkan warna klasik seperti coklat dan hitam.

Batik Priangan, merupakan Batik dari kahyangan. Priangan berasal dari kata Parahyangan yang berarti Kahyangan yang juga berarti tempat tinggal para dewa. Makna kahyangan itu sendiri sudah tereposisi, tidak lagi menceritakan tentang para dewa melainkan kekayaan alam bumi Sunda. Secara umum Batik Priangan menggambarkan flora, fauna (kebanyakan gambar merak, kupu-kupu) dan juga catatan sejarah yang dialami oleh masyarakat Priangan.

Dan seperti cerminan masyarakat Sunda pada umumnya, yang berwatak riang, dan terbuka terhadap unsur-unsur asing. Batik Priangan sendiri terinspirasi dari budaya luar yang tentunya dikombinasikan dengan budaya lokal. Inspirasi tersebut berasal dari budaya asing seperti Cina dan Eropa pada penggunaan motif kipas, paying dan kartu remi. Juga inspirasi dari Batik Yogjakarta, terlihat dari kesamaan mirip pada motif parang yang pada Batik Priangan disebut motif Rereng atau Isuk.

Secara umum tidak ada pembatasan pemakaian kain Batik Priangan ini pada kalangan tertentu seperti pada Batik Jogjakarta dan Solo, hal ini karena motif yang digambar tidak memuat unsur doa dan juga tidak ada makna tertentu secara filosofis. Jika ada kalangan tertentu yang menggunakan motif yang jarang ditemui maka biasanya motif tersebut dipesan khusus langsung kepada pembatik. Dalam hal penggunaan, Batik Priangan hanya dipakai untuk busana tidak untuk upacara atau perayaan agama tertentu.

Penggunaan motif yang bersifat naturalis disebabkan oleh profesi sebagian besar masyarakat Sunda yang agraris. Motif-motif tersebut berupa ekspresi dari kesuburan dan keelokkan tanah Sunda, dan juga kegembiraan para petani dalam menyambut panen raya. Tetapi karena profesi masyarakatnya juga, Batik Priangan kalah pamor dengan Batik Jawa Tengah seperti Jogjakarta dan Solo, karena begitu memasuki masa panen, masyarakat berhenti mengerjakan Batik, membatik hanya dijadikan pekerjaan sampingan. Namun seiring dengan naiknya kembali pamor kain tradisional, Batik Priangan kembali merebut hati masyarakat Indonesia dengan keindahan warnanya.

Batik Tasikmalaya – Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.

Batik bukan saja diproduksi di Pekalongan, Solo, Surakarta maupun Yogyakarta. Batik juga diciptakan di sejumlah kawasan Jawa Barat. Diantaranya :

1. Batik Ciamis
Sedangkan untuk motif Batik Ciamis adalah campuran dari batik Jawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan.

2. Batik Cirebon: Batik Pesisiran, Batik Keratonan dan Batik Trusmi
Aktual Di Cirebon warna kain secara garis besar cerah dan ceria, merah, pink, biru langit dan hijau pupus. Warna batik tradisional terpusat pada tiga warna yaitu krem, hitam, dan cokelat. Batik Keratonan biasanya berwarna coklat soga atau keemasan.

3. Batik Garut atau Garutan
Aktual Warna cerah dan penuh pada sisi lainnya, menjadi ciri khas batik Garutan. Didominasi warna dasar krem atau gading (gadingan), biru dan soga agak merah. Adanya warna ungu pada corak / desain batik garutan.

4. Batik Indramayu: Batik Dermayon dan Batik Paoman
Aktual Awalnya Batik Paoman hanya memiliki dua warna, yakni warna kain dan warna motif. Warna motif pun masih tradisional, seperti biru tua atau coklat tua. Kini warna-warna pada Batik Paoman lebih beragam.

5. Batik Sumedang atau Batik Kasumedangan
Dengan warna kain merah, motif batik Kasumedangan yaitu berpola ceplokan motif utama pada latar vertikal, horisontal atau polos dan menemukan makna-makna simbolis dari motif-motif tersebut.

6. Batik Tasikmalaya: Batik Tasikan, Batik Karajinan (Wurug), Batik Sukaraja / Sukapura (Batik tulis khas Tasikmalaya)
Bahkan pada masanya, kejayaan batik Tasik telah membuat kota ini dijuluki pusat industri batik di selatan Jawa Barat. Seakan ingin mengulangi kejayaannya di masa silam. Orang Tasik kini bangkit mengangkat kembali batik Tasik sebagai produk komoditi unggulan. Motifnya memang khas, sehinga layak dikenakan sebagai busana yang membuat siapapun yang mengenakannya tampil simpatik.

Batik Tasik dikerjakan dalam dua bentuk yakni dengan teknik cetak dan teknik tulis (handmade). Untuk yang batik tulis, nilainya cukup tinggi sehingga mampu menjadi cinderamata yang prestise. Aktual Warna dasar kain merah, kuning, ungu, biru, hijau, orange dan soga. Dan warnanya cerah namun tetap klasik dengan dominasi biru. Batik Sukapura berciri khas warna merah, hitam dan coklat. Motifnya kental dengan nuansa Parahyangan seperti bunga anggrek dan burung. Selain itu ada juga motif Merak ngibing, Cala-culu, Pisang Bali, Sapujagat, Awi Ngarambat. Batik Tasik memiliki kekhususan tersendiri yaitu bermotif alam, flora dan fauna. Batik Tasik hampir sama dengan Batik Garut hanya berbeda dari warna, Batik Tasik lebih terang warnanya.

Memperhatikan kualitas dan potensinya, sudah selayaknya batik Tasik dibanggakan oleh orang Tasik. Untuk membuatnya jadi terhormat ada baiknya bila setiap warga kota Tasik berkomitmen untuk menjadikan Batik Tasikmalaya sebagai busana utama dan kebanggaan kemanapun mereka bepergian.

PEMESANAN : 085222308405

This slideshow requires JavaScript.

Previous Older Entries Next Newer Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: