Anyaman rotan tak pernah karatan

Kerajinan anyaman memang tak lekang oleh zaman. Tak sebatas menjadi alat seperti tikar, kreativitas motif dan desain mampu menciptakan beragam bentuk dekorasi lainnya. Peminatnya pun tak hanya dari negeri sendiri tapi juga datang dari luar negeri.

Sudah sejak lama masyarakat Indonesia mengenal seni anyaman dari aneka bahan baku, mulai dari bambu, rotan, dan sekarang ada anyaman eceng gondok dan pelepah pisang. Dulu, produk anyaman sebatas memenuhi kebutuhan. Kini, kerajinan anyaman berkembang menjadi aksesori dan karya seni bernilai tinggi.

Di antara sekian banyak bahan baku, peminat produk anyaman rotan boleh dibilang tak pernah surut. Maklum, anyaman rotan relatif lebih awet ketimbang anyaman dari bahan baku lainnya.

Peminat produk anyaman juga meluas. Selain dari pasar lokal, pemesan produk anyaman datang dari mancanegara. Tak heran bila pengusaha anyaman rotan senang bukan kepalang.

Salah satunya, Bowo Sulistyono. Pemilik Najma Gallery dari Jepara. Pengusaha kerajinan anyaman rotan yang mengawali usahanya tahun 2007 ini, sekarang sudah memasarkan produknya sampai ke luar negeri. “Saya pernah mengirim tiga kontainer barang anyaman ke luar negeri,” ujarnya. Tiap kontainer berisi 500 unit produk anyaman. Produk andalannya adalah lampu berdiri (standing lamp).

Bowo mempekerjakan sekitar 15 orang perajin. Sebagian besar pegawainya adalah kaum hawa. “Ibu-ibu lebih teliti dan hasil anyamannya lebih rapi ketimbang kaum pria,” tandas Bowo.

Jumlah produksi kerajinan anyaman rotan di rumah usaha milik Bowo boleh dibilang masih terbatas. Maklum, hampir 100% proses penganyaman ini mengandalkan keterampilan tangan.
Dalam seminggu, rumah produksi Bowo yang berada di Mulyoharjo, Jepara menghasilkan hanya 50
unit anyaman. “Rata-rata, satu orang hanya mampu menganyam antara tiga sampai lima kap lampu dengan tinggi satu meter,” kata Bowo. Bila ada permintaan dalam jumlah besar, ia akan memberdayakan penduduk sekitar untuk memenuhi pesanan.

Saat ini, Bowo mempunyai lebih dari 200 desain anyaman rotan untuk berbagai produk. Seringkali, ia meracik sendiri motif anyaman rotan itu. Selain itu, Bowo juga mendapatkan inspirasi motif anyaman dari berbagai literatur.

Selain Bowo, produsen anyaman rotan yang lain adalah Guntoro Rusli. Pemilik Light Craft di Surabaya ini juga lebih banyak membuat hiasan lampu dari rotan.

Tahun 2009, Guntoro mulai serius terjun sebagai perajin lampu dekorasi. Supaya bisa mencuil pasar yang telah ada, ia mengklaim mengusung desain menarik lagi unik.

Tidak seperti perajin lampu rotan lainnya, Guntoro menggarap kerajinan dari anyaman rotan dengan desain aneka binatang, seperti kodok, sapi, kucing, gajah hingga kupu-kupu. Pemilihan warna untuk produknya pun tak biasa alias lebih menonjol.

Maklum, Guntoro fokus membidik pasar anak dan keluarga muda sebagai konsumen produk kerajinan anyaman rotan. “Karena itu kami membuat berbagai macam model produk yang unik dan lucu,” katanya.

Sama seperti Bowo, Guntoro juga lebih banyak mengandalkan keahlian tangan ketimbang peralatan mesin dalam proses produksinya. “Semua produk kami hand made,” tegas Guntoro.

Kendati minim mesin, proses pembuatan aksesori dari anyaman rotan bisa cepat. Sebagai contoh, dia hanya membutuhkan waktu dua jam untuk membuat lampu dekorasi bermodel binatang degan ukuran dimensi 25x10x10 cm. Adapun untuk membuat replika pohon natal dengan ukuran satu meter, Guntoro membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Sudah begitu, kata Guntoro, kualitas kerajinan anyaman rotan yang mengandalkan keahlian tangan dipercaya lebih bagus ketimbang yang menggunakan mesin. “Teknik pembuatannya sederhana, rotan dililit sesuai dengan model yang dibuat. Setelah itu diberi warna,” paparnya.
Karena keunikannya, pemasaran produk-produk kerajinan Light Craft ini telah merambah ke seluruh pulau di Indonesia. Seperti Bowo, Guntoro juga mulai merintis pemasaran beragam lampu rotan ini ke pasar ekspor.

Biasanya, permintaan datang dari Italia, Amerika Serikat dan Malaysia. “Untuk pengiriman ke luar negeri, order yang saya terima minimal 50 unit,” ujarnya. Sayang, permintaan ekspor belum rutin.

Guntoro menjual berbagai lampu Light Craft dengan harga berkisar antara Rp 95.000 sampai Rp 260.000 per unit. Banderol harga tersebut bergantung pada ukuran lampu. Sementara, harga pohon natal dari anyaman rotan setinggi 1 meter bisa mencapai Rp 4 juta per unit.

Saat Natal tahun lalu, Guntoro mendapatkan pesanan hingga 50 pohon natal dan mengantongi pendapatan hingga Rp 100 juta. Saat bulan-bulan biasa, ia meraih omzet sekitar Rp 50 juta sebulan.

Senada dengan Guntoro, harga kerajinan anyaman rotan yang ditawarkan Bowo juga bervariasi, mulai dari Rp 80.000 sampai Rp 500.000, tergantung ukuran, disain dan tingkat kerumitan.

Bowo mencontohkan untuk lampu meja dengan ukuran kurang dari satu meter, ia mematok harga Rp 80.000. “Saya pernah mendapatkan pesanan dari Bandung untuk membuatkan lampu dengan tinggi dua meter,” jelas Bowo.

Selain pesanan lokal, Bowo juga menerima pesanan dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa pernah menjadi pelanggannya.

Jika order melimpah, Bowo bisa mengantongi omzet hingga Rp 100 juta sebulan. Namun, dalam kondisi biasa saja, omzet Bowo berkisar antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta saban bulan.

1 Comment (+add yours?)

  1. dimas bagus
    May 25, 2012 @ 01:49:51

    alamatnya di mana??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: