Kerajinan Pandan

Usaha kerajian pandan sudah sejak lama ditekuni oleh sebagian penduduk secara turun temurun di lokasi sentra produksinya. Kegiatan proses produksi kerajinan pandan dikerjakan dengan menggunakan alat sederhana sehingga sangat mudah dikerjakan oleh siapapun termasuk ibu rumah tangga.

Pengadaan sarana produksi dan bahan baku kerajinan pandan diupayakan sendiri oleh pengrajin. Bahan baku dan penunjang industri kerajinan pandan yang biasa digunakan oleh para pengrajin adalah: anyaman pandan, kain, benang jahit, kancing batok kelapa, lem, zat warna/pengkilap, pernis, resluiting, tambang dan karton.

Lokasi sentra produksi kerajinan pandan terletak di dua puluh satu desa yang berada di lima wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Rajapolah, Parungponteng, Cikalong, Cipatujah dan Pagerageung. Sentra produksi terbesar usaha kerajinan pandan adalah Kecamatan Rajapolah.

A. PROSPEK PASAR

Pemasaran hasil kerajinan pandan terbilang tidak sulit, karena pada umumnya pembeli datang sendiri ke tempat pengrajin. Pembeli yang datang ke tempat pengrajin adalah pedagang, baik pedagang besar maupun kecil, atau konsumen secara langsung. Pembeli berasal dari Tasikmalaya dan daerah lain terutama berasal dari kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Disamping itu ada pula pembeli dari daerah lain, yaitu daerah industri pariwisata seperti Bali. Barang kerajinan yang dibeli di Tasikmalaya kadang-kadang dijadikan barang cenderamata daerah pariwisata lain. Tidak sedikit barang kerajinan pandan Tasikmalaya yang dijual di pasar seni di Bali dan menjadi cenderamata Bali. Adapun pembeli dari luar negeri diantaranya datang dari Jepang, Amerika, Singapura dan Eropa.

Kebanyakan produk tas anyaman pandan dan produk setengah jadi diminati oleh konsumen dari Jepang dan Eropa, sedangkan konsumen dalam negeri tidak begitu banyak berminat terhadap jenis peroduk tersebut. Konsumen Eropa, terutama Italy menggunakan produk anyaman pandan setengah jadi untuk bahan pendukung sol sepatu sedangkan pembeli dari Jerman mengggunakan produk setengah jadi ini untuk bahan pendukung interior mobil. Produk-produk yang terbuat dari bahan dasar anyaman pandan, banyak diminati oleh konsumen mancanagara, berkaitan dengan sifat produk yang mudah didaur ulang (renewable). Sampah produk yang berbahan baku anyaman pandan tidak mengganggu fungsi lingkungan hidup.

B. DUKUNGAN SUMBER DAYA LOKAL

Adanya peningkatan permintaan, menyebabkan ketersediaan bahan baku yang ada di Tasikmalaya tidak mencukupi lagi, sehingga mesti ditambah dengan bahan baku yang diperoleh dari luar Tasikmalaya, misalnya dari Pangandaran, Kabupaten Ciamis dan dari Gombong, Kabupetan Kebumen Propinsi Jawa Tengah. Melihat kondisi seperti ini membuka peluang untuk memanfaatkan lahan yang kurang produktif untuk pengembangan tanaman pandan.

Usaha kerajinan pandan memiliki dukungan sumberdaya manusia yang terampil dan berpengalaman cukup lama. Namun demikian, pengrajin pada umumnya, khususnya pengrajin anyaman pandan adalah keluarga tani yang pada saat menggarap sawah akan menunda pekerjaan kerajinannya. Pada saat ini biasanya terjadi stagnasi produksi, dan akan mengganggu kontinuitas produksi secara keseluiruhan.

C. STRATEGI PENGEMBANGAN

strategi pengembangan usaha kerajinan anyaman pandan antara lain dapat ditempuh dengan cara:

Sosialisasi pengembangan tanaman pandan kepada masyarakat petani. Hal ini dimungkinkan karena tanaman pandan dapat tumbuh pada lahan kering yang potensinya masih sangat melimpah di Tasikmalaya.

Untuk menjaga kontinuitas produksi perlu dibentuk perjanjian kemitraan antara pengrajin dengan pemilik modal yang lebih mengikat dan menguntungkan kedua belah pihak. Penataan kelembagaan yang lebih adil dalam perolehan pendapatan yang proporsional dengan besarnya risiko yang harus dtanggung.

Secara de fakto kelompok pengrajin ada di berbagai sentra. Namun mereka tidak mengikatkan diri pada tatanan kelembagaan yang formal. Maka untuk meningkatkan daya tawar mereka, diperlukan pemantapan kelembagaan kelompok pengrajin dalam bentuk formal. Pembentukan kelompok hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang lebih demokratis, dilandasi atas kepentingan dan persepsi yang sama diantara pengrajin.

Perlu dipikirkan insentif yang lebih layak kepada pengrajin agar pengrajin tidak meninggalkan pekerjaan kerajinannya pada saat musim menggarap lahan pertanian mereka.

Pasar ekspor yang selama ini berjalan harus tetap dipertahankan dan terus berupaya mencari peluang ekspor baru. Pemerintah daerah maupun pusat dapat memfasilitasinya dengan memberikan kesempatan kepada pengusaha untuk mengikuti pameran-pameran nasional, regional maupun internasional.

http://www.tasikmalayakab.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: