SENTRA KERAJINAN RAJAPOLAH

TIDAK salah jika Rajapolah disebut sebagai sentra kerajinan Tasikmalaya. Sebab di wilayah kecamatan itu berbagai jenis barang kerajinan diproduksi. Tengok saja toko-toko yang menjual barang kerajinan, berderet di sepanjang jalan raya Rajapolah, sekitar 12 kilometer dari arah Tasikmalaya menuju Bandung via Ciawi.
Kerajinan apa pun yang dibutuhkan pasti ada di sana. Jadi bagi para pemudik yang melewati Rajapolah, inilah kesempatan membeli hasil kerajinan khas Tasikmalaya sekaligus buatan dalam negeri untuk oleh-oleh maupun digunakan sendiri. Memang Rajapolah adalah surga bagi pecinta suvenir yang bermanfaat.

Aneka kerajinan mulai dari yang kecil-kecil seperti berbagai macam aksesori, piring buah-buahan dari rotan, centong batok kelapa, tempat tisu anyaman pandan, atau yang berukuran sedang seperti sandal pandan, kelom geulis, tas pandan, kap lampu hingga yang berukuran besar seperti tempat cucian pandan, boks bayi, tikar mendong atau lampit, semua tersedia di pertokoan tersebut.

“Pokoknya kalau dihitung-hitung, jenis barang kerajinan yang ada di pertokoan ini lebih dari 100 jenis,” kata Jajat (39), salah seorang pemilik toko kerajinan.

Harga barang kerajinan dijual mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 450.000. Yang menarik dan bisa menjadi pertimbangan konsumen, harga seluruh barang kerajinan yang dipajang di deretan toko kerajinan sepanjang sekitar 300 meter ini, jauh lebih murah ketimbang di perkotaan.

Kap lampu ala Jepang misalnya, per potong hanya Rp 17.000 hingga Rp 20.000 saja. Sementara barang yang sama dijual di Kota Tasikmalaya bisa mencapai Rp 25.000 per potong. Bahkan jika konsumen datang langsung ke perajinnya, harga bisa lebih miring lagi sekitar Rp 10.000-15.000 per potongnya. Sekalian berwisata melihat bagaimana produk kerajinan itu dibuat.

“Kami malah senang bisa dikunjungi pembeli langsung, kendati tempat pembuatan kap lampu ala Jepang ini kondisinya seadanya. Malah pernah ada pengunjung yang sekalian minta diajarin cara-cara pembuatannya. Kalau hanya sekadar untuk berwisata ya silakan saja,” ujar Amat (78), satu-satunya perajin kap lampu Oshin ini. Tapi kalau untuk membuka usaha baru, pria sepuh ini memasang tarif tertentu.

Menurut Jajat, jika menengok ke belakang, sentra kerajinan Rajapolah mulai ada sekitar tahun 60-an. Warga sekitar saat itu mulai membuat barang-barang anyaman pandan. Seiring dengan banyaknya pesanan dan mulai berdatangannya pembeli, pada tahun 70-an satu per satu muncul toko kerajinan di sepanjang jalan nasional ruas Tasikmalaya-Bandung itu.

“Saya sendiri termasuk generasi ketiga penerus usaha barang kerajinan ini. Generasi pertama adalah kakek yang saat itu menjadi perajin anyaman pandan. Usaha itu kemudian diteruskan oleh bapak dan mulai merintis pembuatan toko. Saya sendiri tinggal meneruskan usaha turun-temurun ini, dan Alhamdulillah bisa menghidupi keluarga,” kata Bapak dua anak ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: