Dua Jam Belajar Anyaman Rotan

Menganyam rotan rupanya mengasyikkan. Paling itulah yang dirasakan puluhan guru dan pengurus pondok pesantren se-Kaltim yang menghadiri Pelatihan Kewirusahaan yang digelar Kementerian Agama Kaltim dan Poltek Pertanian Samarinda. Meskipun baru kali pertama menjalin bilah rotan, namun hasil karya mereka cukup menarik.

SEBANYAK 25 guru dan pengurus pondok pesantren di Kaltim menghadiri Pelatihan Kewirusahaan yang digelar Kementerian Agama Kaltim dan Poltek Pertanian Samarinda di Auditorium Iqro Jalan Harmonika, mulai 23 hingga 27 Mei. Salah satu keterampilan yang diajarkan adalah anyaman rotan.

“Ini pertama kali saya belajar menganyam rotan. Awalnya saya tidak tertarik dan tidak menyangka ada pelatihan membuat anyaman. Tapi ternyata sangat bermanfaat dan rasanya senang belajar hal baru,” kata Sujaib Saud dari Ponpes Hidayatullah, usai pelatihan, Kamis (27/5).

Membuat berbagai alat rumah tangga dari anyaman rotan, kata Sujaib, tidak begitu sulit asalkan sudah mengetahui cara mengaitkan dan mengikat jalinan rotan dengan tepat. “Yang susah justru di bagian akhirnya, karena harus diikat dengan baik agar tidak terlepas. Rotan ini bisa dibuat berbagai macam bentuk, bisa piring rotan, keranjang baju dan tudung nasi,” kata Sujaib.

Untuk membuat kerajinan rotan dibutuhkan stok rotan yang cukup banyak. Untuk membuat piring rotan dibutuhkan sekitar 1/2 ons rotan dan sekitar 2 kg untuk membuat keranjang pakaian. “Kami langsung bisa waktu dilatih membuat anyaman rotan. Butuh waktu sekitar dua jam,” kata Sujaib.

Ilmu yang diperolehnya dalam pelatihan ini, kata Sujaib, tak akan disimpannya sendiri. Begitu kembali ke Ponpes Hidayatullah, keterampilan ini akan ditularkan kepada para santri. “Ini juga menjadi variasi pelajaran bagi santri, sehingga mereka tidak hanya membaca hadits dan belajar agama tetapi juga memiliki keterampilan lain. Bahkan kalau ditekuni bisa menjadi home industri,” ujarnya.

Dukungan bahan baku rotan juga menguatkan keinginan mereka. Fahrul Anam, perwakilan dari Ponpes Asy-Syifa Balikpapan menuturkan suplai rotan bisa diperoleh dari Poltek Pertanian Samarinda seharga Rp 20.000 perkilogram, sehingga mereka tinggal memesan saja sesuai kebutuhan. “Ini akan kami ajarkan kepada santri, sehingga bisa untuk ponpes juga sekaligus untuk keterampilan santri,” ujarnya. Sujaib pun optimis dalam pemasaran nanti, karena anyaman rotan tak pernah kehilangan penggemar. Justru dari pengamatannya, banyak restoran yang menggunakan piring anyaman roran.

Atak Sumedi, Ketua Teknisi Poltek Pertanian Samarinda menuturkan, kegiatan ini diharapkan bisa ditularkan kepada para santri di ponpes masing-masing. Bila ditekuni, keterampilan ini digunakan untuk menambah pemasukan pendapatan bagi ponpes. “Kalau dikembangkan dan dijual, Ponpes bisa mandiri. Santri juga punya keterampilan khusus,” ujarnya.

Pihaknya sengaja memilih keterampilan rotan fitrit, karena saat ini penggunaan rotan di Kaltim kurang diminati. “Salah satunya karena petani di hulu mahakam juga lebih memilih untuk mengeksploitasi batubara, jadi kami ingin membangkitkan pertani rotan. Kalau permintaan banyak, maka otomatis mereka pun kembali aktif,” ujar Atak.

http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/58248

1 Comment (+add yours?)

  1. indonesiarattan2
    Mar 24, 2014 @ 07:42:18

    sip, keren

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: