Kerajinan tangan : kearifan lokal untuk membangun keterampilan dan jiwa kewirausahaan.

Mengapa kerajinan tangan penting?

Belajar kewirausahaan biasanya langsung dikonotasikan dengan bagaimana mendidik seseorang misalnya siswa atau mahasiswa menjadi seorang wirausaha. Tidak salah tapi melihatnya terlalu sederhana, karena kewirausahaan itu sendiri adalah suatu proses belajar yang tidak berhenti pada satu titik, melainkan proses yang terus menerus dilakukan orang seorang wirausahawan sejak dari nol. Karena itu layak sekali melihat dan mengamati bagaimana ceritanya seorang wirausahawan belajar kewirausahaan sejak dini.

Belajar kewirausahaan sejak dini yang dimaksud adalah membekali keterampilan dan melatih jiwa wirausaha di lingkungan sosial misalnya di rumah dan di sekolah. Pelajaran kerajinan tangan yang diberikan di sekolah dasar ini (mungkin dalam kurikulum 2006 sekarang masuk dalam Seni budaya dan keterampilan ) ditinjau dari ilmu kewirausahaan itu ternyata sangat penting dan fundamental sekali untuk memancing kreatifitas sebagai salah satu karakter utama seorang wirausahawan. Meskipun para ahli masih berdebat tentang karakter tersebut apakah bawaan atau bisa dilatihkan. Menurut faham konstruksi sosial bahwa pembentukan karakter ini bisa dipengaruhi oleh pengaruh kegiatan sosial. Dengan demikian faktor lingkungan keluarga atau rumah dan sekolah mempunyai kesempatan yang berharga untuk membangun karakter-karakter wirausahawan. Sudah sejauhmanakah efektifitas pelajaran keterampilan ini dalam membangun karakter kreatif bukan merupakan topik untuk dibahas di sini. Itu mungkin bisa menjadi topik menarik untuk penelitian para mahasiswa jurusan pendidikan.

Kembali kepada kerajinan tangan, tentu kita tidak melihatnya hanya semata-mata aktifitas motorik, melainkan melibatkan kesenangan yang memancing keingintahuan dan kreatifitas untuk mengerjakannya dengan baik. Barangkali pelajaran ini mengambil kearifan lokal dari warga masyarakat di berbagi tempat di Indonesia, yaitu kalau mereka rajin bekerja dan berkarya maka hidupnya akan survive dan berhasil. Kita lihat saja contoh yang ada dan mudah kita kenali, misalnya orang Padang berhasil berwirausaha denga warung nasi padangnya, orang Rajapolah Tasikmalaya bisa mandiri dengan berkarya dalam produk anyaman dari daun pandan, orang Sumedang dengan tahu Sumedangnya, orang Sukaregang Garut membuat usaha dalam bidang produk kulitnya. Masih banyak lagi contoh-contoh daerah lain yang berhasil berkreasi dengan membuat nilai tambah produk dari yang tidak berharga atau bahkan sampah seperti kulit jeruk dijadikan kalua jeruk –produk khas kreasi masyarakat Pangalengan Jawa Barat. Kalau demikian ternyata kerajinan tangan itu mengandung tujuan agar anak bisa rajin bekerja serta bisa menciptakan nilai tambah dari suatu barang. Karena nilai tambah suatu barang diliat dari peluang usaha berarti produk tadi layak jual, bukankah ini bibit-bibit jiwa kewirausahaan? Jangankan yang kreatif menghasilkan karya inovasi atau produk betul-betul baru, yang rajin kerja saja membuat sesuatu dari bahan mentah menjadi barang jadi sudah tidak perlu susah-susah mencari pekerjaan, malahan akhirnya dia mempekerjakan orang lain. Bisa membuat sesuatu kalau masih tetap malas bekerja atau tidak punya semangat, tetap saja akan menjadi penganggur yang membebani orang lain dan pemerintah.

Bagaimana seseorang belajar kewirausahaan

Pertanyaan bagaimana atau “ How” ini penting sekali agar orang yang mau belajar kewirausahaan bisa bercermin atau meniru proses bagaimana seseorang menjadi wirausahawan. Berikut adalah contoh bagaimana seseorang yang ketika masih remaja sudah punya keahlian hasil didikan orangtuanya yang kelak keterampilannya menjadi tumpuan hidupnya. Dia sendiri tidak menyadari dan tidak memanfaatkan keahlian ini sampai berpuluh tahun, hingga sampai bergelayutan jadi kenek bis kota dan terakhir meningkat menjadi sopir bis kota. Semua berkat hasil kerajian dia ketika masih kecil mau diajarin bapaknya membuat tahu.

Pak Endang adalah seorang pengusaha tahu di kota Garut tepatnya di Kecamatan Malangbong, tempat kelahirannya. Di Malangbong ini tahu hasil Pak Endang sudah terkenal, bahkan semua pedangang tahu di pasar Malangbong selalu mengaku bahwa tahunya adalah “tahu Pak Endang” agar laku, begitu menurut penuturannya. Sekilas mengenai proses pembuatan tahu di pabriknya bisa dilihat di link video. Bagaimana ceritanya bisa memiliki pabrik tahu? Sebelumnya kita dengar dulu penuturannya bagaimana bapaknya yang pandai membuat tahu mengajarkan anaknya:

“Bapak saya pandai membuat tahu..aslinya orang Cibuntu yang semua orang tahu pinter bikin tahu..karena suasana genting di kota Bandung pindah ke Malangbong ..bertani palawija..karena belum ada pabirk tahu tahun 1949 itu …terus di Malangbong bikin prabrik tahu dengan cara manual pake penggilingan batu. Jadi hanya bapak saya satu-satunya yang bisa membuat tahu di sini. Usaha berkembang maju sampai tahun 1965. Anak2nya kemudian disuruh belajar bikin tahu”

Sebelum menjadi pengusaha tahu dia sempat bekerja ke sana ke mari. Pak Endang cerita:

“Saya pernah kerja jadi tukang kreditan di Surabaya tidak berhasil terus ke Jakarta..paling lama di sana jadi supir bis kota. Pulang dari jakarta menganggur lagi..balik lagi kerja di Jakarta jadi sopir ..tahun 80 mengalami tabrakan, akhirnya berhenti menganggur”

Nah akhirnya menjadi pengusaha tahu ceritanya bagaimana?

“Ceritanya begini , berhubung dulu hidup kami kenapa kok sampai tua ngontrak2 terus, ga punya piring ga punya apa, ga punya gelas..ga punya tempat tidur. Susahlah hidup waktu itu, punya penghasilan dari nyopir sampai dapat 75 – 100 ribu pernah satu hari paling bagus, hasil kerja 3 hari dipake dalam satu hari libur langsung abis, begitu kalau jadi supir itu. Setelah tabrakan itu .. saya terus mikir, kan saya bisa bikin tahu…ya akhirnya saya putuskan banting setir ..wiraswasta sajalah!!”

Pak Endang membuktikan bahwa hasil “kerajinan” dia berupa kemampuan membuat tahu – keahlian warisan ayahnya – akhirnya menyelamatkan dia dari keterpurukan. Para ahli mengatakan bahwa ada 3 dasar yang bisa membuat seseorang menjadi wirausahawan yaitu kemampuan menjual, kemampuan membuat produk baru, dan kemampuan memimpin. Nah yang dimiliki Pak Endang adalah kemampuan membuat produk tahu, walaupun bukan merupakan produk baru tapi yang jelas dibutuhkan waktu itu di tempat dia berada, dan belum banyak saingan seperti sekarang. Sedangkan kemampuan menjual baru berkembang kemudian, karena setelah bisa membuat produk tentu harus bisa menjualnya, dan setelah punya anak buah di pabrik harus tentu harus belajar memimpin. Tapi yang ditekankan dalam pembahasan di sini adalah faktor keterampilan membuat produk itu sebagai hasil jerih payah kerajinannya dalam belajar dan belajar rajinnya. Kemauan untuk mengerjakan sendiri inilah hasil dari keuletan dia dalam berkerajinan tangan dan belajar menjadi orang rajin di bawah bimbingan ayahnya.

Kata kunci “kerajinan” bisa diartikan buah tangan dari sifat rajin seseorang atau sekelompok masyarakat untuk bereksplorasi dan mencoba-coba sehingga melahirkan berbagai hasil kerajinan dari bermacam-macam bahan baku yang ada di sekitarnya. Kembali ke konteks pelajaran kerajinan tangan, guru-guru biasa menugaskan siswa membuat kerajinan dari berbagai bahan. Sayang pelajaran ini masih berorientasi pada hasil akhir, padahal yang paling penting adalah proses bagaimana si anak didik mengerjakan, menghayati, mengapresiasi, dan mengeluarkan potensi kreatifitasnya dalam kegiatan tersebut. Jadi alangkah lebih baik mereka mengerjakannya di sekolah, sehingga guru betul-betul mengetahui sendiri proses mengerjakan kerajinan tersebut, bukan terima jadi yang umumnya adalah hasil kerajinan orang tua. Seperti disebutkan di atas bahwa dalam belajar itu elemen prosesnya yang perlu diperhatikan, jadi proses belajar menjadi wirausahawanpun harus bisa dijelaskan agar bisa menjadi pelajaran untuk orang yang ingin berwirausaha.

Berkah teknologi

Kalau kita melihat sebentar pada masa teknologi informasi yang canggih sekarang ini, mengerjakan sendiri atau membuat sendiri atau “Do It Yourself (DIY)” melalui internet bisa membuat orang yang rajin semakin mudah mempelajari berbagai keterampilan yang disukainya dari yang sederhana sampai yang rumit. Sebelum ada internet misalnya orang yang ingin bisa memasak pasakan tertentu harus beli buku resep, sekarang cara yang lebih mudah, ketik saja resep apa yang dicari, maka dalam sekejap muncul berbagai versi resep baik tulisan maupun videonya (lewat youtube). Demikian teknologi memanjakan kita dengan berlimpah informasi untuk belajar sendiri, mengerjakan sendiri atau membuat sendiri, do it yourself (DIY).

Apa kata para ahli tentang DIY ini?

Sejauhmanakah semangat DIY ini penting sekali dimata para peneliti tentang kewirausahaan? Kafai (2011) menyebutnya : “the spirit of self-produced and originated project” yaitu semangat menghasilkan/membuat sesuatu oleh diri sendiri dan semangat dalam aktifitas yang menghasilkan. Kedua-duanya saling berkaitan. Elemen pertama mengartikan bahwa tanpa ada bimbinganpun orang mau mencoba-coba sendiri melalui “trial-and-error” yang sifatnya belajar mandiri atau belajar sambil mengerjakan (learning by doing) yang menurut (Guglielmino & Klatt 1993) adalah ‘self managed or self-motivated process to learn, change and improve’. Itu yang dibuktikan oleh Pak Endang, dia punya motivasi untuk belajar membuat tahu dari ayahnya, kemudian mau merubah nasib hidupnya dari sopir bis kota menjadi pengusaha tahu, sehingga kehidupannya (ekonominya) bertambah baik. Dari elemen kedua menunjukkan bahwa seseorang punya semangat untuk aktif mengerjakan sesuatu yang memberikan hasil atau nilai tambah. Lebih jauh lagi Lahm (2005) mengatakan bahwa kebiasaan DIY ini adalah suatu fenomena dari para pendiri UKM untuk memulai usahanya.

Kerajinan adalah modal berwirausaha

Sering kita mendengar alasan orang tidak mau atau tidak bisa memulai usaha karena tidak punya modal. Pola pikir seperti ini harus dirubah !! Mengapa?? Karena menurut penelitian ternyata modal itu terdiri dari 3 jenis : Human Capital, Social Capital baru Financial Capital. Human capital mencakup antara lain keterampilan menghasilkan produk atau jasa, selain keterampilan dan sikap wirausaha. Jadi singkatnya keterampilan yang diuraikan di atas adalah salah satu modal untuk berwirausaha.

Kemudian setelah bisa membuat barang atau jasa tentu harus laku dijual, karena itu diperlukan keterampilan menjual. Tidak semua orang berani menjual barang dengan alasan malu, takut tidak laku, takut ditolak, gengsi. Mental seperti ini yang menghalangi orang menjadi seorang wirausahawan. Padahal semua pengusaha sukses yang berangkat dari bawah memulai dengan menjual barangnya sendiri, contoh pengusaha Bob Sadino belajar berwirausaha dengan cara menjual telor-telor diangkut sepeda kemudian ditawar-tawarkan ke toko-toko. Di situ Bob Sadino belajar bagaimana harus ulet dalam berusaha, artinya keterampilan saja belum cukup kalau tidak ditambah dengan keuletan (bahasa gaulnya tahan banting).

Mari kembangkan budaya DIY.

“Indonesia negeri kaya dengan berbagai sumber daya alam” adalah kebanggan semu tapi potensil untuk direalisir . Salah satunya adalah sumber daya hasil pertanian, peternakan perkebunan atau laut. Supaya orang Indonesia tidak seperti tikus mati di lumbung padi (seperti banyak kasus kelaparan di daerah-daerah, padahal dengan lingkungan alam yang subur bisa menghasilkan sesuatu dari yang tidak bernilai menjadi bernilai, misalnya beternak bekicot, cacing, dll) maka mereka harus dibangunkan budaya kreatifitasnya, paling dasar dan mudah adalah melalui keterampilan menghasilkan nilai tambah dari produk yang berlimpah atau mudah di dapat di sekitarnya.

Jadi sudah saatnya semua orang bisa membuat satu jenis produk minimal untuk keluarganya terutama di pedesaan-pedesaan yang daya belinya rendah misalnya orang harus bisa membuat toge, tahu, atau tempe, selai buah-buahan, saos tomat atau cabe dsb. Masyarakat di sekitar petani susu bisa membuat yogurt, keju dan jenis produk yang bernilai tambah lainnya dari susu. Intinya masyarakat harus memanfaatkan hasil budidaya di sekitarnya. Belum lagi peluang bisa membuat pasta gigi, sampo atau sabun sendiri, yang ternyata cara membuatnya tidak susah (lihat di yotube, artinya orang melek internet mengajarkan kepada masyarakat di pedesaan). Kasihan mereka miskin tapi harus beli barang-barang yang sama dibeli orang kota yang berpendapatan tinggi.

Kalau budaya DIY atau membuat sendiri sudah menjadi tradisi, itu artinya setiap orang sudah punya modal keterampilan yang mungkin suatu saat bisa menjadi penolongnya (sperti kasus Pak Endang di atas) ketika hidupnya mentok menjadi penganggur. Untuk selanjutnya boleh kita bicara level yang lebih tinggi lagi misalnya membangun sikap “jeli” melihat peluang, artinya orang tidak membuat atau menyediakan barang/jasa dulu tapi melihat-lihat sekitar kira2 barang apa yang dibutuhkan orang. Sikap jeli inipun termasuk dalam Human Capital yang patut dikembangkan apakah di lingkungan sekolah, keluarga atau lingkungan sosial (RT, RW dst).

Jadi mari kita bekali diri sendiri dengan keterampilan membuat suatu produk karena atmosfir ini akan berpengaruh dan menular kepada teman, saudara, dan yang lebih penting keluarga kita. Saatnya beramal ilmu kepada orang lain, kalau anda misalnya bisa dan tahu cara membuat bakso ajarkanlah kepada orang lain. Banyak contoh di youtube bagaiamana seorang pelajar Indonesia di luar negeri memperagakan cara membuat tahu, tempe, mengolah masakan dll, itu sudah amal membagi ilmu dan ditonton banyak orang lagi, amalnya tambah berlipat. Padahal mereka adalah pelajar mungki sedang sekolah S2 atau S3, tapi telah memberikan contoh bahwa keterampilan itu sangat bermanfaat untuk kehidupan.

Terakhir kerajinan tangan di sekolah-sekolah rupanya harus dihidupkan lagi dengan semangat membangun jiwa wirausaha !!!

Demikian mudah-mudahan bermanfaat.

1 Comment (+add yours?)

  1. putri
    May 20, 2013 @ 06:22:37

    Thanks

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: