PRODUK UNGGULAN

1. MENDONG

Peluang Pasar

Mendong adalah jenis kerajinan anyaman yang menggunakan bahan baku tanaman mendong. Ada dua jenis anyaman mendong yang dihasilkan, yaitu tenunan mendong ered (diproduksi oleh pengrajin mendong untuk tikar), serta tenunan madani yang tidak hanya dipergunakan untuk tikar namun juga untuk produk mendong lainnya.

Sekarang ini hasil diversikasi yang berbahan dasar anyaman mendong, dapat dilihat pada produk interior ruangan, box multiguna, peralatan rumah tangga, peralatan kantor dan lainnya. Bahkan untuk jenis tikar pun, sudah berkembang bentuk/ jenis struktur anyamannya menjadi lebih menarik serta praktis. Respon pasar cukup baik, ditunjukkan dengan permintaan pasar yang terus meningkat bahkan untuk permintaan ekspor dengan tujuan AS, Kanada, Spanyol, New Zealand, Afrika Selatan, Jepang serta Mesir pada tahun 2006, bernilai US$ 449.712.
Dukungan Sumber Daya

Sentra usaha mendong Kota Tasikmalaya, berada di Kecamatan Cibeureum, Kecamatan Tamansari serta Kecamatan Indihiang. Data potensi komoditi unggulan mendong adalah sebagai berikut : jumlah unit usaha 165 unit, nilai investasi Rp 321.900.000,-, nilai produksi Rp 34.182.874,- jumlah tenaga kerja 2.055 orang.

Keberadaan usaha kerajinan ini sangat menonjol di Kecamatan Cibeureum dan Tamansari, karena hampir sebagian besar mata pencaharian masyarakatnya ”bersentuhan” dengan kerajinan ini, baik sebagai petani tanaman mendong itu sendiri,tukang tenun tikar, bandar pengumpul bahan baku atau pengumpul bahan jadi ataupun pengusaha pembuat produk-produk variasi dari bahan anyaman mendong.

Bahan baku 30 % dipenuhi oleh petani dalam Kota Tasikmalaya dan 70 % masih dipenuhi dari luar kota (Yogyakarta, Wonosobo, Jember dan Malang). Namun demikian Pemerintah Kota Tasikmalaya, melalui Dinas Pertanian berupaya untuk mneingkatkan produksi tanaman mendong tersebut, untuk memenuhi permintaan pengrajin.

2. BORDIR

Peluang Pasar
Kota Tasikmalaya menempatkan sektor industri dan perdagangan sebagai potensi utama yang didukung oleh data empirik bahwa potensi industri kecil kerajinan dan perdagangan cukup menonjol perkembangannya. Mayoritas mata pencaharian penduduk Kota Tasikmalaya bergerak di bidang perdagangan, industri, dan jasa (36 %).

Pada tahun 2000 para pedagang bordir membentuk Asosiasi Gabungan Pengusaha Bordir Tasikmalaya (GAPEBTA) dan pada tahun 2002 para pedagang meminta lokasi yang tetap kepada pengelola pasar Tanah Abang. Dengan difasilitasi Pemerintah Kota Tasikmalaya, Asosiasi GAPEBTA mendapatkan pinjaman uang muka untuk pembayaran bangunan yang representatif di blok F2 lantai 5 dari anggaran dana PIM (Pinjaman Industri Manufaktur) Propinsi Jawa Barat.

Khusus produk bordir, dipasarkan di Pasar Tanah Abang Jakarta setiap hari Senin dan Kamis dengan omzet sebesar Rp 30 milyar per bulan, sementara untuk pasar ekspor bordir telah mampu menembus negara-negara Saudi Arabia, Singapura, Malaysia, dan Afrika.

Selain ke Pasar Tanah Abang, pemasaran bordir Kota Tasikmalaya juga ke Pasar Tegal Gubug Cirebon dan daerah-daerah lainnya di Pulau Jawa maupun luar Jawa seperti: Pasar Turi Surabaya, Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah, Pulau Batam, Ujung Pandang, Pontianak dan lain-lain.

Dukungan Sumber Daya

Kota Tasikmalaya merupakan salah satu sentra industri kecil bordir di Jawa Barat, bahkan di tingkat nasional. Industri bordir menyerap jumlah tenaga kerja yang cukup besar di Kota Tasikmalaya, hal tersebut tidak lepas dari nilai ekonomi yang cukup tinggi yang dapat dihasilkan bordir dibandingkan dengan kerajinan lainnya.

Data potensi komoditi unggulan bordir adalah sebagai berikut : Jumlah Unit Usaha 1.123 unit, Nilai Investasi Rp 77.998.745.000,-, Nilai Produksi Rp 442.474.001.000,- danJumlah tenaga kerja 10.713 orang.

3.ALAS KAKI

Peluang Pasar

Industri kelom (alas kaki) merupakan industri hilir berbahan baku kayu Damar atau Albazzia yang menjadi salah satu komoditas kerajinan khas Tasikmalaya. Industri kelom sudah sejak tahun enam puluhan ditekuni oleh sebagian masyarakat yang berada di Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Tasikmalaya. Industri kelom pernah mengalami booming pada tahun delapan puluhan. Pada saat itu permintaan ekspor produk industri ini cukup baik. Saat ini industri kelom mengalami sedikit penurunan namun masih berjalan dan dapat memenuhi permintaan baik dari dalam negeri maupun permintaan ekspor.

Kelom diproduksi di 5 sentra produksi yang terletak di Desa Kersanegara, Mulyasari, Setiamulya, Sukahurip, dan Sumelap, semuanya berada di Wilayah Kecamatan Cibeureum. Di lokasi tersebut tidak kurang dari 144 unit usaha yang melibatkan 1.254 tenaga kerja. Total investasi pada industri kelom di Tasikmalaya mencapai Rp. 627.000.000,-. Perincian mengenaibanyaknya unit usaha, jumlah tenaga kerja yang diserap, jumlah investasi dan produksi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Berdasarkan tabel tersebut di atas, dapat diketahui bahwa sentra produksi kelom terbesar di Tasikmalaya, berada di Desa Sukahurip yang menghasilkan tidak kurang dari 237.600 pasang kelom pertahun dengan total nilai Rp. 3.564.000.000,-. Jumlah tersebut dihasilkan oleh 30 unit usaha yang mempekerjakan tidak kurang dari 330 orang tenaga kerja.

4. MEUBEL KAYU

Peluang Pasar

Usaha meubel kayu banyak ditekuni oleh sebagian masyarakat Tasikmalaya, terutama masyarakat Kecamatan Cibeureum. Meubel kayu yang terkenal dan banyak dikerjakan oleh para pengrajin adalah meubel kayu bukan jati. Maka produk yang dihasilkan bukan meubel yang berkualitas terbaik apabila dilihat dari bahan bakunya. Namun demikian dari sisi pengerjaanya meubel yang dihasilkan cukup baik, rapih dan memilki nilai estetika yang cukup menarikuntuk kategori produk pada kelasnya.

Sesuai dengan kelasnya, meubel yang dihasilkan terjangkau oleh daya beli masyarakat pada umumnya. Dengan demikian pasar dari produk-produk meubel tersebut sangat potensial. Harga produk meubel khas Tasikmalaya tersebut berkisar antara Rp. 400.000,- sampai Rp. 600.000,- per M.

Dukungan Sumber Daya

Sentra produk meubel kayu khas Tasikmalaya terdapat di 11 desa yang berada di 3 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Cibeureum, Cipedes, dan Mangkubumi.

Berdasarkan data, Kecamatan Cibeureum merupakan sentra produksi meubel terbesar. Di kecamatan tersebut terdapat 681 unit usaha yang tersebar di tujuh desa. Kegitan usaha tersebut mampu menyerap tenaga kerja 12.627 orang. Sebagai gambaran, dilihat data tahun 1999 menunjukan jumlah produk yang dihasilkan kecamatan Cibeureum mencapai 2.546.100 stel, bernilai Rp. 191.182.500.000,-. Melihat jumlah unit usaha yang cukup besar apabila dibandingkan dengan jumlah produk yang dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa usaha meubel kayu pada umumnya berskala usaha rumah tangga.

http://www.tasikmalayakota.go.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: