Belum Dikembangkan Menjadi Tujuan Wisata: Rajapolah Semakin Sepi Pembeli

Pedagang kerajinan di sentra kerajinan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, hanya mengandalkan pembeli dari wisatawan yang menuju atau pulang dari Pangandaran. Setahun setelah bencana tsunami di Pangandaran, Rajapolah pun turut sepi.

Pemilik toko bambu Art Shop di Rajapolah, Roni M (35), mengatakan, setahun pascatsunami penjualan produk kerajinan di Rajapolah belum membaik. Apalagi, beberapa pekan lalu gelombang laut di pantai selatan sempat tinggi sehingga banyak wisatawan membatalkan liburannya.

“Pedagang di Rajapolah hanya mengharapkan penjualannya dari libur akhir pekan dan liburan panjang,” katanya, Kamis (31/5) di Rajapolah.

Para pedagang kerajinan di Rajapolah hanya mengandalkan pembeli yang kebetulan melintas di wilayah itu. Namun, sejak adanya jalan layang Rajapolah yang menghubungkan Kabupaten Tasikmalaya dengan Kabupaten Ciamis, wisatawan yang hendak menuju Pangandaran lebih memilih jalan itu. Akibatnya, banyak wisatawan yang baru pertama kali ke Pangandaran tidak mengenal sentra kerajinan Rajapolah.

Menurut Roni, pemerintah daerah tidak melakukan sosialisasi dan promosi untuk memperkenalkan Rajapolah kepada wisatawan. Bahkan, papan penunjuk arah pun tidak ada. “Yang ada hanya papan nama penunjuk arah, sedangkan banyak orang yang belum kenal dengan Rajapolah dan apa yang ada di sana. Banyak yang menyangka Rajapolah sama seperti Malioboro di Yogyakarta,” kata Roni.

Sepinya penjualan juga diakui Erna Riesmayantie (40), penjual bahan baku kerajinan serta produk kerajinan kotak dari anyaman pandan dan eceng gondok.

Menurut Erna, pascatsunami dan setelah adanya jalan layang, penjualan merosot 50 persen. Namun, pasar ekspor masih tetap menjanjikan. Pesanan dari Jakarta dan Bandung pun masih mengalir.
Belum jadi ikon

Minimnya informasi yang diketahui masyarakat tentang Rajapolah membuat pusat perdagangan kerajinan ini belum banyak dikunjungi. Rajapolah belum menjadi pusat wisata seperti Malioboro di Yogyakarta.

Roni menegaskan, Rajapolah belum menjadi ikon untuk wisata belanja produk kerajinan di Jawa Barat. “Rajapolah baru sebatas pusat dagang, belum jadi pusat wisata yang bisa dikunjungi wisatawan sambil berjalan-jalan seperti Malioboro,” ujarnya.

Kurang berkembangnya Rajapolah juga disebabkan terbatasnya obyek wisata di Tasikmalaya. Hanya ada obyek wisata Gunung Galunggung dan Kampung Adat Kampung Naga. Infrastruktur pun sangat terbatas, jalan-jalan masih banyak yang rusak.

Di Rajapolah terdapat sekitar 40 toko yang menjajakan produk kerajinan tangan berbahan dasar pandan, mendong, eceng gondok, rotan, kayu, dan kain bordir. Produk yang diminati pengunjung biasanya kelom, tas anyaman, kotak multifungsi, dan kap lampu ukuran kecil. Harga produk yang ditawarkan sekitar Rp 15.000-Rp 300.000. (THT)

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: