Bertahan Berkat “Ngigelan” Zaman

Jika kerajinan payung geulis kehilangan fungsinya menjadi sebuah barang ekslusif, namun bagi komoditas kerajinan kelom geulis tidak demikian. Karena mengikuti perkembangan zaman, kelom geulis bertahan.
Dari beberapa literatur di jaringan internet, nama kelom baru muncul sekitar tahun 70-80-an. Sebelumnya, kelom lebih dikenal dengan nama gamparan pada era kolonial Belanda pada tahun 1930-an.
“Dari berbagai sumber yang saya baca, gamparan digunakan para abdi dalem dan pejabat pemerintahan kolonial Belanda. Sampai akhirnya pada era kemerdekaan, berubah fungsi menjadi sebuah bakiak. Kelom sendiri pada masa itu sangat sederhana, hanya sendal kayu yang pengaitnya berbahan kulit imitasi,” ujar Pipin Arifin, pengelola Kelom Geulis Mustika ketika ditemui di Sentra Industri Kelom Gobras, Kota Tasikmalaya, Jumat (30/3).
Sejak lama nama kelom geulis mulai muncul ke permukaan. Karena, saat itu kelom dibuat lebih “geulis” dengan balutan ukiran dan cat air brush. Hingga saat ini, variasi produk pun bertambang dengan berbalut bordir dan batik khas. Maka tak heran jika saat ini, produk hasil kerajinan tangan tersebut mewakili kekhasan daerah Tasikmalaya.
Menurut Pipin, evolusi yang dilakukan terus-meneruslah yang membuat mereka terus melayani pemesan dari berbagai daerah. Bahkan, tidak hanya dari pasar lokal saja, di tingkat nasional dan internasional pemesan tak henti memberikan apresiasi terhadap buah tangan masyarakat Tasikmalaya ini.
“Waktu itu saja ada pesanan satu kontainer dari Saudi Arabia. Tetapi kami tidak mampu memenuhi pesanan karena kapasitas produksi hanya 1,5-2 kodi perminggu. Sebenarnya bisa saja dipenuhi, dengan catatan meninggalkan kearifan lokal mengganti orang dengan mesin seperti mencetak bahan mentah, hingga menggunakan mesin oven,” katanya.
Kualitas produk, bagi pengrajin merupakan sebuah harga yang tak ternilai. Proses pembuatan kelom sendiri membutuhkan penghayatan dalam setiap motif yang tercetak. Maka tak heran jika setiap pengrajin memiliki kekhasan masing-masing.
“Imajinasi pembuat motif ukiran itu tidak terbatas. Sehingga tiap toko juga memiliki motif yang beragam. Walaupun produksi kelom masih terbatas, hanya itu konsekuensi logisnya. Karena sedikit SDM yang bisa melakukan itu,” ujarnya.
Konsekuensi dari kapasitas produksi yang terbatas, bukan berarti menjadi halangan untuk melakukan ekspansi pasar. Permintaan dan masukan dari konsumen justru semakin menambah inovasi produk untuk bisa bertahan. Penjualan melalui jejaring sosial pun salah satu jalan pintasnya.
“Sejak 2009, kami mulai berdagang melalui jaringan sosial facebook. Ternyata, responsnya bagus. Saat ini saja kita mendapatkan pesanan dari Maluku, Palembang. Mereka, ingin membuat kelom dengan ukiran yang khas dari daerahnya. Kita harus berinovasi jika ingin terus bertahan,” kata pipin sembari memperlihatkan motif ukiran yang diinginkan konsumen dari Maluku.
Menurut praktisi ekonomi Tasikmalaya, Junjun Arip Nugraha, inovasi dan pemasaran sangat diperlukan agar para pengrajin tetap bertahan. Pilihannya hanya dua, pertama memperbanyak fungsi kegunaan sebuah produk. Atau, tetap pada kearifan lokal dengan mengisi pasar ekspor. Aspek pemasaran produk juga perlu diperhatikan, mengingat pasar selalu dinamis.
“Jika pengrajin ingin bersaing dalam fungsi kegunaan, mereka harus banyak berinovasi. Kudu ngigeulan jaman. Tetapi karakter industri kerajinan di Tasik kan lebih pada produk budaya, sehingga pasar ekspor lebih menjanjikan. Hal itu, juga harus ditopang dengan inovasi dan ketersediaan SDM. Selama ini regenerasi di pengrajin memang macet,” kata Junjun, yang juga dosen program studi Manajemen Keuangan Syariah.
Ia mencontohkan, Kota Tasikmalaya perlu banyak belajar dari Rajapolah sebagai sentra anyaman dan kerajinan bambu yang bisa menembus pasar ekspor. Karena ditopang sumber daya manusia yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan.
“Pemerintah Kota Tasikmalaya juga harus mengkaji secara khusus terkait dengan macetnya regenerasi di kalangan pengrajin. Karena, industri yang berbasis pada kearifan lokal itu berbeda dengan industrialisasi kerajinan. Maka, perlu kajian khusus untuk mendongkrak kapasitas produksi. Hal itu perlu dilakukan jika mimpi menjadi kota perdagangan maju ingin terwujud,” katanya. (Inu Bukhari/”KP”)***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: