Kondisi Sosial-Ekonomi KERAJAAN SUNDA

Kerajaan Sunda memiliki dua karakter, yaitu sebagai kerajaan pedalaman yang berkarakter agraris dan kerajaan maritim dengan karakter niaga. Dikatakan sebagai kerajaan pedalaman dengan karakter agraris didasarkan pada alasan bahwa ibukota kerajaan terletak di pedalaman dan kebanyakan mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Disebut sebagai negara maritim dengan karakter niaga didasarkan pada alasan bahwa kerajaan ini memiliki enam pelabuhan penting yang berfungsi selain sebagai askses mobilitas sosial tempat keluar dan masuknya manusia, tapi juga sebagai akses keluar dan masuknya barang-barang perniagaan.

Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian (SSK) memberikan informasi penting tentang kondisi masyarakat Sunda berdasarkan jenis pekerjaannya. Secara garis besar terdapat tiga kelompok masyarakat, yaitu sebagai aparatur kerajaan, cendikiawan dan rohaniwan, serta kelompok masyarakat umum dengan beragam jenis pekerjaan, di antaranya petani, peternak, seniman dan sebagainya. Meskipun terdapat pengelompokan yang demikian, tidak berarti bahwa satu orang hanya memiliki satu macam pekerjaan. Kemungkinan terbesar adalah seseorang memiliki banyak pekerjaan, mungkin yang satu sebagai pekerjaan utama dan yang lainnya sebagai pekerjaan sampingan (sideline). Atau, bisa juga tiap pekerjaan disikapi sama, hanya bergantung pada musim, kapan seseorang melakukan apa. Adanya jenis okupasi yang cukup beragam (differsified) mencerminkan sudah terciptanya sistem organisasi sosial yang tidak sederhana, begitu juga sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, agama dan kepercayaan, kesenian, dan sebagainya.

Meskipun terdapat beragam jenis pekerjaan, namun kemungkinan besar bertani merupakan mata pencaharian utama mayoritas masyarakat Sunda. Mengamati naskah-naskah lokal, baik SSK maupun Carita Parahiayangan (CP), sebagian ahli berpendapat bahwa jenis pertanian yang dikerjakan masyarakat Sunda waktu itu (abad ke-14/15) adalah berhuma, sedangkan bersawah hanya sebagian kecil saj.a Pengambilan kesimpulan seperti itu, didasarkan pada analisis teks naskah, yakni jumlah kata sawah yang dimuat dalam naskah serta nama-nama perkakas pertanian.

Dalam CP, misalnya, hanya sat u kali disebut nama “sawah”. Iut pun dalam hubungannya dengan nama suatu tempat yang disebut “sawah tampian dalem”, tempat dipusarakannya Ratu Dewata. Petunjuk selanjutnya yang mengisyaratkan dominannya berhuma adalah menonjolnya peran tiga orang titisan pancakusika, yaitu pahuma (peladang), panggerek (pemburu), dan panyadap (penyadap; pengambil air nira untuk bahan gula aren). Ketiga jenis pekerjaan ini mengacu pada pekerjaan di ladang.

Sementara itu, dalam SSK istilah “panyawah” hanya disebutkan satu kali. Itu pun masih merupakan pekerjaan yang dianjurkan kepada masyarakat untuk dipelajari. Jenis perkakas pertanian yang disebut dalam naskah ini pun merupakan perkakas yang digunakan di ladang, seperti: kujang, patik, baliung, kored, dan sadap.

Dominannya berladang atau berhuma sebagai cara bertani masyarakat mengandung beberapa pengaruh terhadap karakter masyarakat. Pengaruh-pengaruh itu misalnya dalam pola pemukiman penduduk yang tidak settled pada satu wilayah secara permanen, tapi cenderung berpindah-pindah, bangunan rumah relatif sederhana supaya mudah dipindahkan atau tidak sayang bila ditinggalkan, karakter masyarakat yang relatif lebih individual atau berkelompok dalam jumlah yang kecil saja, kohesivitas sosialnya lebih longgar. Kondisi ekologis seperti itu pun dianggap bukan tempat yang
subur bagi lahir dan tumbuhnya kreativitas seni.

Meskipun penjelasan di atas ada benarnya, terutama bila menyandarkan pendapat pada sebagaian isi naskah; akan tetapi boleh jadi tidak sepenuhnya benar, karena pada bagian lainnya, naskah yang sama, menginformasikan adanya beragam jenis kesenian. Beragamnya jenis kesenian dengan berbagai kualitasnya menunjukkan juga kebeadaan masyarakat yang sudah mapan dan menetap. Dengan demikian, penyebutan istilah “sawah” yang hanya satu kali saja dalam naskah itu belum menjadi petunjuk yang cukup untuk memberi label final bahwa masyarakat Sunda saat itu adalah masyarakat ladang. Yang lebih memungkinkan adalah sebagian masyarakat bertani dengan cara berladang dan sebagian yang lainnya bersawah; meskipun mungkin peladang lebih banyak jumlahnya.

Meskipun kerajaan Sunda hidup dari pertanian, tapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian penduduk pun bermatapencaharian sebagai pedagang. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kerajaan ini, sebagimana diberitakan oleh Tome Pires, memiliki enam buah pelabuhan, yaitu: Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Kalapa dan Cimanuk. Adanya pelabuhan-pelabuhan ini memiliki arti penting bagi sebuah kerajaan. Pelabuhan sendiri umumnya merupakan sebuah kota tempat konsentrasi penduduk, yang memiliki struktur masyarakat tersendiri, biasanya dipimpin oleh syahbandar. Di dalamnya akan terbayangkan terjadinya mobiltas sosial-kultural yang dinamis sebagai pengaruh dari out- and inmigration. Perekonomian pun berkembang karena biasanya kota pelabuhan menjadi juga kota perdagangan. Komoditas tertentu dari luar masuk ke wilayah kerajaan Sunda melewati pelabuhan. Komoditas pertanian, kerajinan dan industri dari wilayah kerajaan keluar (exported) lewat pelabuhan. Hal-hal tersebut tak pelak lagi akan merangsang pertumbuhan aktivitas perekonomian.

Sebagai kota pelabuhan pun wilayah kerajaan ini banyak didatangi oleh pedagang-pedagang dari luar, bahkan mereka mungkin tinggal beberapa hari di kota-kota pelabuhan. Dengan demikian pluralitas pun mewarnai kehidupan kota, baik pluralitas etnis, kultur, agama dan sebagainya. Oleh karena itu tidak heran bila di kerajaan Sunda terdapat kelompok sosial yang memiliki pekerjaan sebagai juru basa darmamuncaya atau juru bahasa/penerjemah. Etnis luar yang memiliki hubungan dagang dengan kerajaan Sunda adalah Cina, India, Maladewa, Priaman, Andalas, Tulangbawang, Palembang, Lawe, Tanjungpura, Malaka, Makasar, Jawa dan Madura.

Komoditas perdagangan yang dihasilkan kerjaan Sunda di antaranya: bahan makanan, lada, asam, beras, sayur-mayur, sapi, kambing, biri-biri, babi, tuak dan bauah-buahan. Sedangkan komoditas perdagangan dari luar adalah bahan pakaian yang didatangkan dari Kambay (India), juga budak. Praktik transaksi jual beli saat itu dilakukan melalui dua cara, barter dan uang. Mata uang yang beredar sebagai alat tukar yaitu mata uang Cina. Jenis mata uang yang beredar di kerajaan Sunda, sebagaimana disebutkan oleh Tome Pires, adalah ceitis, calais (=1.000 ceitis), uang mas 8 mates, drahma dan tumdaya (=15 drahma). Untuk menghubungkan arus sosial dan ekonomi dari kota-kota pelabuhan ke daerah-daerah pedalaman terdapat lalu-lintas jalan darat. Ten Dam (1957: 299) menjelaskan keberadaan jalan-jalan darat pada masa kerajaan Sunda. Jalan darat berpusat di ibu kota kerajaan, Pakwan Pajajaran. Dari situ ada yang menuju ke timur melewati Cileungsi – Cibarusah – Tanjungpura – Cimanuk, Karawang. Dari Tanjungpura ada belokan menuju Cikao – Purakarta berakhir di Karangsambung. Dari Karangsambung ada belokan ke timur menuju Cirebon – Kuningan – Galuh atau Kawali. Yang ke selatan melewati Sindangkasih – Talaga – akhirnya sampai ke Galuh atau Kawali. Sementara itu jalan yang menuju ke bara t bermula dari Pakwan Pajajara n – Jasinga – Rangkasbitung – Serang – Banten. Jalan darat lainnya dari Pakwa menuju Ciampea dan Rumpin, selanjutnya disambung melalui jalur sungai Cisadane. Melalui jalan-jalan darat dan sungai itulah hasil bumi kerajaan Sunda diangkut dan barang dari luar didatangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: