KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TATAR SUNDA dari Masa Tarumanagara

KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TATAR SUNDA

dari Masa Tarumanagara

Mengenai kemungkinan pertanian sebagai mata pencaharian didasarkan pada informasi yang diperoleh dari prasasti Tugu. Pada prasasti Tugu disebutkan tentang pembuatan kali dan saluran yang mengarahkan aliran air ke perkampungan dan pada akhirnya mengalirkannya ke laut. Pembuatan kali ini diduga dimaksudkan untuk dua tujuan, mengatasi banjir dan mengairi lahan-lahan pertanian penduduk. Di samping itu, tentu saja, karena air merupakan kebutuhan utama penduduk sebagai sumber penghidupan, keberadaan saluran-saluran pengairang dapat mengikat penduduk supaya lebih settled.

Adapun mengenai kemungkinan adanya penduduk yang bermatapencaharian sebagai peternak, malahan, bisa jadi cukup dominan adalah informasi pada prasasti Tugu yang menyebutkan tentang penghadiahan seribu ekor sapi kepada para Brahmana. Sapi adalah binatang domestik, binatang peliharaan; dan seribu adalah jumlah yang banyak, yang secara denotatif seribu adalah di atas 999 dan di bawah 1001. Bila kalimat “seribu ekor sapi itu dipahami demikian”, maka tidak bisa tidak, kecuali bahwa peternakan adalah termasuk jenis mata pencaharian populer saat itu. Kecuali kalau kalimat “seribu ekor sapi” itu sebagai kalimat metafor, hanya simbol untuk menyebutkan salah satu uapacara keagamaan yang sangat ritual dan sakral.

Adanya penduduk yang memiliki aktivitas di bidang pelayaran didasarkan pada fakta adanya hubungan antara kerajaan Tarumanagara dengan India dan Cina pada satu sisi, dan adanya barang-barang yang diperdagankan antarkerajaan di sisi lain. Pembuatan kali atau saluran dari pusat kerajaan ke laut pun bisa jadi digunakan juga sebagai jalur transportasi dari pedalaman ke pesisir.

Adanya aktivitas perekonomian berupa perburuan, perikanan, pertambangan dan perniagaan lebih didasarkan pada sumber-sumber Cina yang mengabarkan bahwa daerah yang disebut Ho-ling itu menghasilkan kulit penyu, mas dan perak, cula badak dan gading gajah. Badak dan gajah adalah binatang liar. Untuk mendapatkan cula dan gadingnya, terlebih dahulu harus diadakan perburuan. Selanjutnya, kemungkinan besar cula badak dan gading gajah itu barang-barang yang diperjualbelikan. Bila gajah dan badak saja, sebgai binatang yang sangat liar diburu, apalagi untuk binatang-binatang lain yang lebih kecil dan lebih jinak. Dengan demikian adanya aktivitas berburu pada rakyat kerajaan Tarumanagara cukup masuk akal.

Adapun mengenai kemungkinan adanya aktivitas perikanan saat itu tidak dimaksudkan bahwa pada masa itu sudah ada budidaya ikan di kolam, tetapi lebih pada upaya mengambil ikan di sungai atau di laut. Hal ini pun didasarkan pada berita Cina tentang adanya kulit penyu. Penyu adalah binatang laut yang liar. Kulit penyu pun termasuk jenis barang yang banyak digemari ole h saudagar-saudagar Cina. Mengenai kemungkinan adanya aktivitas pertambangan didasarkan pada berita Cina juga yang mengabarkan bahwa di daerah itu dihasilkan emas dan perak. Tentu saja kedua jenis
logam mulia itu – yang merupakan barang hasil tambang – tidak hanya dijadikan perhiasan bagi penduduk tapi juga menjadi komoditas perdagangan.

Hal lain yang menarik dari berita Cina adalah bahwa penduduk kerajaan Tarumanagara sudah punya kemampuan membuat minuman keras terbuat dari mayang (bunga kelapa). Fakta tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan, seperti apakah tuak tersebut menjadi minuman sehari-hari atau hanya digunakan pada momentum tertentu saja, dalam upacara keagamaan misalnya; juga apakah minuman tersebut hanya dikonsumsi sendiri atau juga diperjualbelikan.

Adanya aktivitas-aktivitas perekonomian seperti itu mengisyaratkan sudah adanya organisasi sosial, sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, juga ada sarana dan prasarana yang menopang mobilitas sosial masyarakat. Kalaupun secara eksplisit hal-hal itu tidak disebutkan dalam sumber-sumber sejarah, namun berdasarkan nalar yang rasional, keberadaannya menjadi sebuah keniscayaan.

Untuk menjelaskan hal tersebut, contohnya adalah sarana dan prasarana transportasi. Kehadiran orang Cina, para Brahmana India dan aktivitas perdagangan menunjukkan adanya mobilitas sosial yang menuntut adanya sarana dan prasarana transportasi. Akses ke dan dari wilayah kerajaan Tarumanagara dilakukan melalui dua jalur: darat dan air. Jalur darat menggunakan, paling tidak, jalan setapak. Binatang sapi, selain digunakan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat dan keperluan keagamaan, bisa jadi juga digunakan sebagai pengangkut beban, baik barang maupun orang.

Adanya kerajaan dan aktivitas perekonomian bisa dielaborasi juga struktur masyarakat dan pengelompokannya berdasarkan okupasi. Ada penguasa (ruler) dengan berbagai peringkatnya dan ada rakyat (ruled) dengan beragam okupasi, seperti: tani, pemburu, pedagang, pelaut, peternak, penangkap ikan, dan sebagainya. Ditinjau dari segi agama dan budaya, rakyat kerajaan Tarumanagara terbagi atas kelompok, yang beragama dan berbudaya Hindu, Buddha dan asli (Animisme).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: