Sejarah Lain TASIKMALAYA INDAH

Sukapura Ngadaun Ngora (Sejarah Tasikmalaya)

Sebelum ibukota Kabupaten Sukapura berkedudukan di Tasikmalaya, kota ini merupakan sebuah afdeeling yang diperintah oleh seorang Patih Lurah (Zelfstandige Patih). Waktu itu namanya Tawang atau Galunggung. Sering juga penyebutannya disatukan menjadi Tawang-Galunggung. Tawang sama dengan “sawah” artinya tempat yang luas terbuka, dalam Bahasa Sunda berarti “palalangon”.

Ada pendapat lain yang menerangkan arti Tasikmalaya, yaitu berasal darikata “tasik” dan “laya”, artinya “keusik ngalayah”, maksudnya banyak pasir di mana-mana, mengingatkan kejadian meletusnya Gunung Galunggung Oktober 1822, yang menyemburkan pasir panas ke arah Kota Tasikmalaya. Keterangan kedua menyebutkan bahwa Tasikmalaya berasal dari kata “Tasik” dan “Malaya”. Tasik dalam bahasa Sunda berarti danau, laut dan Malaya artinya nama deretan pegunungan di Pantai Malabar India.

Menurut Buku Pangeling-ngeling 300 Tahun Ngadegna Kabupaten Sukapura dan keterangan R.Yudawikarta, bahwa Sareupeun Cibuniagung berputera Entol Wiraha yang menikah dengan Nyai Punyai Agung, seorang pewaris dari Negara Sukakerta, dan Entol Wiraha diangkat menjadi Umbul di Sukakerta. Waktu Wirawangsa, putra Entol Wiraha menjadi umbul Sukakerta, Bupati Wedana di Priangan dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata.

Pada tahun 1628/1629 Dipati Ukur mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Dipati Ukur membawa sembilan umbul (Pemimpin Daerah), diantaranya umbul dari Sukakerta, Wirawangsa. Penyerangan yang berakhir dengan kegagalan itu menyebabkan Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Menurut salah satu versi dari penangkapan Dipati Ukur, yaitu pendapat K.F. Holle; bahwa ada tiga umbul yang ikut dalam penangkapan, yaitu Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa, Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita.

Atas jasa-jasanya, ketiganya diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. Ki Wirawangsa diangkat menjadi Mantri Agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha pada tahun 1674. R.Tg. Wiradadaha I yang berjasa dalam mendirikan Kabupaten Sukapura wafat dan dimakamkan di Pasir Baganjing. R.Tg. Wiradadaha I berputra 28 orang dan digantikan oleh putranya yang ketiga, R. Djajamanggala dengan gelar Tumenggung Wiradadaha II, serta dikenal pula sebagai Dalem Tambela yang meninggal pada tahun 1674. Sebagai penggantinya untuk menjadi bupati adalah adiknya, R. Anggadipa, putra keempat R.Tg. Wiradadaha I, karena putra Dalem Tambela yang berjumlah 8 orang belum cukup umur untuk menggantikannya.

Nama R. Anggadipa I setelah menjadi bupati diganti menjadi R.Tg. Wiradadaha III yang memerintah dari tahun 1674 hingga 1723. Pada masa itu kemajuan agama dipentingkan sekali, karena adanya anjuran dari Sjeh Abdul Muhyi di Pamijahan yang menjadi perintis Agama Islam di Kabupaten Sukapura. Dalam memegang pemerintahan, R.Tg. Wiradadaha III dibantu empat orang puteranya yang masing-masing mempunyai pembagian kerja. Adanya pembagian kerja ini membuat R.Tg. Wiradadaha III terkenal sebagai Bupati Sukapura terkaya. Selain itu memiliki putra terbanyak 62 orang, sehingga lebih dikenal dengan nama Dalem Sawidak.

Pada tahun 1900 Bupati Sukapura XII, R.T. Wirahadiningrat yang memerintah dari tahun 1875 hingga 1901 mendapat Bintang Oranye Nasau, dari pemerintah Hindia Belanda yang menjadikan namanya dikenal sebagai Dalem Bintang. Pada tahun itu pula ibukota Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke Tasikmalaya. Adapun yang melaksanakan perpindahan ibukota adalah penggantinya, yaitu R.Tg. Wiriaadiningrat, Bupati Sukapura XIII. Ada beberapa alasan dipindahkannya ibukota Kabupaten Sukapura ke Tasikmalaya, di antaranya karena daerah Tasikmalaya yang lebih dekat ke Galunggung termasuk daerah yang subur sehingga baik untuk penanaman nila, disamping itu daerah kota Tasikmalaya lebih luas, datar dan indah dibandingkan Manonjaya.

Pada tahun 1942, penjajahan Belanda berakhir diganti dengan pemerintahan militer Jepang. Karena adanya peraturan pengumpulan beras dari pemerintahan Jepang, pernah muncul pemberontakan para santri di pasantren Sukamanah yang dipimpin seorang ulama besar, K.H.Z. Mustofa yang dibela Bupati R.T. Wiradiputra.

Inilah sebagaian kecil dari catatan mengenai Sejarah Sukapura atau yang kini lebih dikenal dengan nama Tasikmalaya.

Advertisements

Sejarah Tasikmalaya Dari Sukapura ke Tasikmalaya

Setelah berpindah-pindah, pada tahun 1901 pusat pemerintahan Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke kota Tasikmalaya sekarang yang saat itu belum bernama Tasikmalaya. Sebutan Tasikmalaya baru digunakan tahun 1913.

Pusat kota Tasikmalaya, pada mulanya tidak di tempat yang sekarang kita kenal sebagai kota Tasikmalaya, akan tetapi terletak di sebelah selatannya di kecamatan Sukaraja. Pada saat itu belum bernama Tasikmalaya akan tetapi bernama Sukapura. Sebutan Sukapura berasal dari kara “Soka Pura” yang berarti “Jejer Karaton” atau Tiangnya Istana {soka = tiang, pura = istana) 1)

Setelah berpindah-pindah dari Sukaraja ke Banjar, lalu ke Manonjaya, maka pada tanggal 1 Oktober 1901, oleh Bupati Wiratanuwangsa (1901-1908), pusat pemerintahan dipindahkan dari Manonjaya ke kota Tasikmalaya sekarang. Akan tetapi namanya masih tetap Sukapura. Baru pada pemerintahan Bupati Wiratanuningrat (1908-1937), tahun 1913 nama kabupaten Sukapura diganti menjadi kabupaten Tasikmalaya.

Dalam buku Pangeling-ngeling 300 Taun Ngadegna Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya) dikatakan bahwa sebutan Tasikmalaya berasal dari kata “tasik” yang berarti “situ” atau danau dan “malaya” yang artinya gunung 2). (Di samping itu ada pula yang mengatakan sebutan Tasikmalaya berasal dari kata “keusik ngalayah” yang berarti “pasir berserakan”, akibat letusan gunung Galunggung).

————————————————————————-
1,2. Patih Rd. Sastranegara. Pangeling-ngeling 300 Taun ngadegna Kabupaten Sukapura (Tasikmalaya)

Sejarah Anyaman Bambu Halus

Pendahuluan

Tulisan ini adalah sebagian dari naskah hasil penelitian yang saya muat di Jurnal Fakultas Seni Rupa dan Desain Trisakti DIMENSI, terbitan September 2009, yang juga merupakan cuplikan dari tesis yang saya buat saat menyelesaikan studi di Departemen Seni Rupa, FTP, ITB, Bandung, tahun 1973.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pencipta anyaman bambu halus di Tasikmalaya adalah seorang petani-perajin Martadinata (Haji Soheh) pada tahun 1890. Tahun 1901 Pemerintah Hindia Belanda, mengangkat Martadinata sebagai guru untuk menyebarkan jenis kerajinan tangan ini ke Jawa Tengah (Ngawi, Nganjuk) dan Sulawesi (Makassar). Penyebarannya di Tasikmalaya sendiri baru setelah tahun 1904, setelah pemerintah Hindia Belanda memberlakukan etische politiek.

Proyek bamboo processing, yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Tasikmalaya tahun 1962, untuk mengembangkan anyaman bambu halus, tidak berhasil karena kurangnya sosialisasi. Setelah mengalami pasang-surut, dewasa ini, anyaman bambu halus merupakan salah satu produk unggulan Tasikmalaya di samping produk bordir, batik, payung dan produk lainnya..

Tulisan ini memaparkan bagaimana asal mula timbulnya anyaman bambu halus di Tasikmalaya dan bagaimana perkembangan selanjutnya. Dimaksudkan: pertama, untuk melengkapi dokumen kerajinan tangan baik bagi pemerintah Kota Tasikmalaya maupun pemerintah Kabupaten Tasikmalaya. Kedua, agar masyarakat Tasikmalaya, khususnya para perajin, merasa bangga bahwa hasil kreasi urang Tasik telah menyebar ke berbagai daerah dan merupakan komoditi ekspor yang membanggakan. Diharapkan rasa bangga tersebut dapat membangkitkan daya kreatif para perajin. Ketiga, merupakan sumber data bagi mereka yang akan mengadakan penelitian kerajinan tangan Tasikmalaya, khususnya mereka yang tertarik untuk meneliti perkembangan anyaman bambu halus Tasikmalaya sejak awalnya. Selanjutnya, tulisan ini dibuat khusus model tulisan untuk blog.

Tinjauan Historis Perkembangnan Anyaman Bambu Halus Tasikmalaya

Asal Mula Kerajinan Tangan Anyaman Bambu

Sejak kapan kerajinan tangan anyaman bambu tumbuh di Tasikmalaya, tidak ada yang tahu. Tapi dapat diperkirakan, ialah sejak orang hidup menetap dan bercocok tanam di wilayah Tasikmalaya. Mula-mula merupakan kegiatan yang berasal dari naluri untuk memiliki alat dan barang yang diperlukan untuk melangsungkan kehidupannya. Kegiatan membuat barang kerajinan tangan ini akan berhenti bilamana kebutuhan telah terpenuhi, lain halnya bilamana timbul “kegiatan perdagangan”. Karena barang berlebihan, atau adanya kebutuhan akan barang yang lain, atau adanya permintaan dari tempat lain, maka terjadilah barter atau penjualan. Hal ini menyebabkan produksi barang kerajinan tangan berjalan terus. Kegiatan ini akan lebih lancar bilamana jalan lalu lintas yang menghubungkan konsumen dengan produksi mudah. Kegiatan yang terus berlangsung, lama kelamaan menjadi kegiatan yang turun-temurun.

Boboko, setengah halus

Kegiatan kerajinan tangan anyaman bambu (kasar dan setengah halus) , yang diwariskan secara turun temurun, tersebar luas di seluruh wilayah Tasilmalaya. Akan tetapi, sampai tahun 1900 sedikit selaki perhatian Pemerintah Hindia Belanga terhadap kegiatan kerajinan tangan yang banyak dilakukan penduduk Tasikmalaya itu. “Terutama karena tidak terlihat kegunaannya bagi keuntungan Pemerintah Jajahan.

Pada umumnya, usaha industry kecil-kecilan yang dilakukan oleh orang-orang pribumi, di samping mengolah tanah, hanya barang kebutuhan sehari-hari untuk keperluan setempat dan bersifat insidentil. Bagi orang Belanda, usaha seperti itu tidak perlu dikembangkan malah sering kali dirugikan karena mendapat saingan dari barang impor yang lebih baik dan lebih murah” (Oorschot, 1931:7) Saat itu, kegiatan yang oleh Pemerintah Hindia Belanda dikembangkan dipusatkan hanya pada hasil pertanian saja (tarum/nila, Pen) yang banyak diminta untuk barang ekspor.

Jaman Cultuur Stelsel (Tanam Paksa)

Penanaman pohon tarum diperintahkan oleh Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811) kepada Bupati Sukapura (nama kabupaten sebelum diganti menjadi Tasikmalaya) agar sejumlah daerah pesawahan ditanami pohon tarum (Sastranegara, 1933:30). Lebih parah lagi, ketika diberlakukan sistem Cultuur stelsel (lebih dikenal dengan sebutan Tanam paksa) oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch tahun 1830-1870. Hal ini dimaksudkan untuk mengisi kas pemerintah yang hampir bangkrut akibat perang Diponegoro yang melelahkan (1825-1830). Penduduk dipaksa menggunakan sebagian tanah garapannya untuk ditanami komoditi ekspor ke Eropa (kopi, tebu, nila) dan menyisihkan harikerjanya untuk pemerintah jajahan.

Van den Bosch

Bagi Pemerintah Hindia Belanda sistem Cultuur stelsel ini berhasil luar biasa (Wikipedia, 2009). Tidak diperoleh data bagaimana dampak Cultuur stelsel di Tasikmalaya. Tapi, di beberapa daerah di Pulau Jawa Cultuur stelsel menimbulkan kemiskinan dan bencana kelaparan, di Cirebon, Jawa Barat tahun 1843 dan di Jawa Tengah tahun 1850 (Wikipedia,2009). Setelah mendapat kritikan dan kecaman pedas dari kelompok etis, tahun 1870 Cultuur stelsel dihapus.

Dalem Bogor

Dengan dihapusnya Cultuur stelsel para petani mulai mengerjakan kerajinan tangan lagi. Sementara itu, Bupati Sukapura ke -11, R.T. Wiraadegdaha (Wiratanuwangsa, Dalem Bogor1855–1875, disebut Dalem Bogor karena dicopot dan diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Bogor, lantaran menolak pajak bumi yang memberatkan rakyat), adalah seorang bupati yang aktif dan kreatif. Banyak jasanya dalam memajukan penduduk, memperbaiki adat istiadat yang dianggapnya kuno dan memajukan bidang kerajinan rakyat, seperti diceritakan Patih Rd. Sastranegara: “………. kajabi ti nelik karaharjaan nagara teh, oge ngadangdosan adat tata karma kuna, sareng teu kinten ngamajengkeunnana tina kabinangkitan.” (……. di samping mengabdi pada negara juga memperbaiki adat-istiadat kuno dan sangat memajukan kerajinan rakyat.”) (Sastranegara, 1933).

Terciptanya Anyaman Bambu Halus

Kerajinan tangan anyaman bambu mulai dikerjakan para petani lagi, terutama di sebelah barat laut kota Tasikmalaya, di kampung Parakanhonje desa Sukamaju, kecamatan Indihiang. Sesuai dengan nama desanya Sukamaju, di tempat inilah asal mula anyaman bambu halus diciptakan. Menurut Masna Tanudimadja – seorang sesepuh, tokoh masyarakat setempat dan penulis buku – pencipta jenis kerajinan tangan ini adalah Martadinata.

Kira-kira tahun 1890, seorang petani bernama Martadinata kehilangan dompetnya (tempat tembakau) yang dibuat dari kulit kanjut domba jalu (scrotum domba jantan). Hal ini menimbulkan dorongan untuk membuat gantinya. Dia mencoba membuat dompet dari anyaman bambu. Setelah beberapa kali dicobanya dia berhasil membuat dompet dari bahan bambu sekalipun masih kasar. Lambat laun anyaman bambunya diperhalus. Setelah berhasi membuat dompet, mulailah mencoba membuat barang lainnya, seperti kimpul dan dudukuy cetok (topi caping). Pada mulanya anyaman bambu halus ini hanya dikerjakan di lingkungan keluarganya saja.

Sementara itu, setelah beberapa kali berpindah tempat, pada pemerintahan Bupati R.T. Prawiraadiningrat (1901-1908) pada tahun 1901, pusat pemerintahan kabupaten Sukapura dari Manonjaya dipindahkan ke Tasikmalaya, akan tetapi sebutan kabupaten masih tetap Sukapura (Sastranegara, 1933).

Politik Etis

Akibat gencarnya kritikan dan kecaman pedas terhadap sistem Cultuur stelsel yang dilontarkan kelompok etis, akhirnya pemerintah Belanda, pada tahun 1901, mengeluarkan kebijaksanaan yang disebut Etische politiek atau Politik etis. Etische politiek merupakan “politik balas budi” yang menyatakan bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda (Wikipedia, 2009). Kebijaksanaan ini dikatakan sebagai

“Pemikiran-pemikiran untuk perkembangan kehidupan orang-orang pribumi……… Politik etis ini menghendaki supaya kebijaksanaan pemerintah disalurkan untuk perkembangan kemakmuran penduduk di bidang ekonomi, kebudayaan dan social.” (Oorschot. 1931:16).

Sejalan dengan politik etis ini pemerintah Hindia Belanda nampak mulai ada perhatiannya pada kegiatan kerajinan tangan penduduk Tasikmalaya, hal ini terlihat dengan diketahuinya oleh pemerintah Hindia Belanda bahwa di Parakanhonje ada jenis anyaman bambu halus. Selanjutnya, Pemerintah Jajahan berusaha mengembangkan jenis kerajinan tangan ini, namun bukan untuk penduduk Tasikmalaya sendiri.

Nyatanya, tahun 1901 Martadinata diangkat menjadi guru kerajinan tangan di Ngawi, Jawa Timur dan tahun 1905 dipindahkan ke Nganjuk (Jawa Timur). Melihat keberhasilan Martadinata di kedua tempat tersebut, pada tahun 1907 pemerintah Hindia Belanda bermaksud mengirimkan Martadinata ke Makassar, Sulawesi, untuk mnjadi guru di sana. Akan tetapi Martadinata tidak bersedia dikirim ke luar Jawa dan dia telah mempunyai niatan untuk pergi naik haji. Sebagai gantinya dia menunjuk salah seorang muridnya yang pandai dari Nganjuk. Kembali dari Mekah namanya diganti menjadi Haji Soheh[1] dan kembali mengajar di Nganjuk. Setelah beberapa lama di Nganjuk dia kembali ke tanah kelahirannya Parakanhonje. Haji Soheh kemudian menyebarkan pengetahuannya kepada penduduk sekampungnya tanpa tujuan komersil. Lama kelamaan jenis anyaman bambu halus ini meluas menjadi kerajinan penduduk Parakanhonje. Tahun 1919 Haji Soheh meninggal dunia.

Pemerintahan Bupati Wiratanuningrat

Campur tangan pemerintah Hindia Belanda dalam bidang kerajinan tangan di Tasikmalaya terlihat dengan diadakannya pelajaran kerajinan tangan di Sekolah Rendah. Dalam laporannya pada tahun 1904 Mr. J.H.Abendanon (salah seorang dari kelompok etis), Direktur Dept. c. V.O & E. en Nijverheid (Direktur Kebudayaan, Agama dan Kerajinan) di Batavia (Jakarta), yang mendapat tugas menyelidiki keadaan kerajinan rakyat, menyarankan agar di sekolah-sekolah diberikan pelajaran menggambar dan menganyam, sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kerajinan tangan (Adjat Sakri. 1969).

Kemudian muncul seorang pengusaha bernama M.S. Nataatmadja (Haji Abdullah Mansur), kuwu Parakanhonje yang besar jasanya terhadap perkembangan anyaman bambu halus. Dalam usaha dagangnya haji Mansur bekerjasama dengan pengusaha bangsa Belanda bernama Olivier, seorang pengusaha topi di Tangerang. Olivier mengekspor topi rangkay (topi yang belum jadi) dari Parakanhonje ke Eropa untuk diselesaikan, dicetak menjadi topi yang siap untuk dipakai. Usaha topi bambu ini mencapai puncak pasarannya antara tahun 1921-1927. Hal ini terjadi pada saat Sukapura diperintah bupati R.A.A.Wiratanuningrat (1908-1937) (Gb.6). Bupati ini banyak jasanya dalam memajukan kerajinan rakyat. Dalam membina penduduk, tidak hanya membantu penduduk dalam bidang pertanian saja, akan tetapi juga bidang kerajinan rakyat. Membantu bermacam-macam koperasi dagang: batik, tenun dan anyaman. Di samping itu, didirikan pula suatu perkumpulan koperasi yang terkenal dengan nama Pakumpulan Duit Hadiah. (Sastranegara, 1933) Catatan penulis: Di kampung Cikendi desa Tanjungpura, kecamatan Rajapolah ada istilah ”olipir” sebagai sebutan untuk bahan jaksi kualitas terbaik untuk membuat topi

R.A.A. Wiratanuningrat

Para Pembesar Tasikmalaya dengan utusan Belanda (tasikmalayakota.go.id)

Tahun 1921 bupati mengadakan pameran anyaman bambu halus di Parakanhonje dalam rangka menyambut kunjungan Sunan Solo ke Tasikmalaya. Selanjutnya, sebagai anggota De Nijverheidscommissie van het Java Instituut bupati mengumpulkan data dan membuat laporan tentang kerajinan rakyat Tasikmalaya yang kemudian oleh Commissie tersebut dibukukan dengan judul De Inheemsche Nijverheid op Java, Madoera, Bali en Lombok, Deel II – Stuk I, Regentschap Tasikmalaja. Diterbitkan oleh Het Java Instituut, 1931. Pada masa malese antara tahun 1930-1935 usaha anyaman bambu halus di Parakanhonje menjadi mundur. Seteleh masa malese berakhir Olivier mengirimkan kumetir Natamadja (kakak H. Mansur) ke pameran internasional di Paris, Perancis (Tanudimadja. wawancara 1972).

Sementara itu, usaha pemerintah Hindia Belanda untuk meningkatkan ekonomi rakyat, melalui kerajinan tangan, terus berlanjut. Dalam Laporan Kerajinan Tangan Tasikmalaya tahun 1929/1930 yang dibuat de Nijverheids-commissie van het Java- Instituut, dapat diketahui bahwa waktu itu di Tasikmalaya terdapat Sekolah Pertukangan (Ambachtschool) yang mempunyai jurusan kayu dan anyaman, dan di Sekolah Dasar diajarkan kerajinan tangan (de Nijverheids-commissie, 1933). Tahun 1929 Sekolah Guru (HIK dan Normaalschool) berhasil mendidik guru-guru kerajinan tangan untuk memberikan pelajaran kerajinan tangan di Sekolah Rendah (Adjat Sakri, 1969).

siswa-menganyam-topi-tasikmalaya-date-1925 (taselamedia.files.wordpress.com)

Para Penganyam di Rajapolah Th.1930 (De Inheemsche Nijverheid, Reg. Tasikmalaya)

Sayang sekali, penulis tidak memperoleh data saat pendudukan Jepang dan pada masa revolusi. Tapi, waktu penelitian dilakukan, tahun 1973, Pemerintah Indonesia telah banyak perhatiannya terhadap perkembangan kerajinan tangan di Tasikmalaya. Pemerintah Daerah dan Jawatan Perindustrian Rakyat Propinsi Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya, menyelenggarakan beberapa usaha untuk memajukan industri kerajinan tangan Tasikmalaya, terutama yang berhububgan dengan masalah kecakapan teknis, management, pemasaran, permodalan, bahan baku dan perkaderan (Jawatan Perindustrian Rakyat Kab.Tasikmalaya,1973).

Proyek Bamboo Processing

Sejalan dengan perkembangan jaman, kerajinan tangan Parakanhonje makin lama makin berkembang, menghasilkan berbagai jenis barang, desaian, bentuk dan ragam hias dan dikerjakan di beberapa tempat di wilayah Tasikmalaya. Hasil produksinya menyebar luas ke berbagai tempat tidak hanya di dalam negeri saja bahkan juga ke luar negeri. Hal ini menarik perhatian pemerintah daerah. Timbullah suatu pemikiran untuk memodernisir usaha kerajinan tangan ini dengan menggunakan alat mekanis. Gagasan ini kemudian diajukan kepada PNPR LEPPIN KAYA YASA Inspektorat Bandung pada tahun 1958. Maka jadilah suatu rencana untuk mendirikan suatu pilot project dan finishing centre dari hasil kerajinan tangan penduduk sekitar Indihiang, dengan maksud memberi dorongan pada pengembangan jenis anyaman bambu halus, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Semula ada dua tempat yang dicalonkan sebagai tempat mendirikan usaha ini, ialah Indihiang untuk jenis anyaman bambu halus dan setengah halus, sedangkan Singaparna untuk jenis anyaman bambu kasar. Setelah diadakan penelitian, pemerintah menunjuk Indihiang sebagai tempat pilot projrct dan finishing centre dengan pertimbangan bahwa di Indihiang banyak terdapat bahan baku berupa pohon bambu tali, banyak tenaga perajin yang sudah terlatih dan tempatnya strategis. Indihiang terletak di jalan lintas Bandung dan kota Tasikmalaya (lewat Ciawi) sehingga memudahkan pengangkutan. Mesin pengolah bambu didatangkan dari Jepang, salah satu negara yang telah maju dalam usaha pengolahan bambu, seharga US $ 30.000.000. Proyek ini dikenal dengan sebutan ”Bamboo processing”.

”Bamboo processing” mulai bekerja pada tanggal 19 Agustus 1962. Bangunannya terletak di jalan Ciawi. Mesin-mesin yang digunakan ialah mesin pemotong, mesin pembelah, mesin peraut dan mesin penganyam. Menurut rencana diharapkan mesin-mesin tersebut dapat memproduksi sebanyak 159.000 potong anyaman bambu halus dalam satu tahun.

Akan tetapi, kemudian ternyata bahwa ”Bamboo processing” hanya dapat berjalan sebentar saja. Hasilnya diluar dugaan semula dan meleset dari yang direncanakan. Penulis seniri menyaksikan, bahws serutan yang dihasilkannya masih kasar tidak bisa sehalus yang dihasilkan oleh tangan, sehingga tidak bisa dipakai untuk anyaman bambu halus. Juga pembuatan anyaman kasar masih kalah cepat dengan yang dikerjakan oleh tangan. , di samping itu hasilnya juga kurang rapih. Karena kurangnya sosialisai kepada penduduk di sekitar proyek ini, maka penduduk tidak menganggap usaha ini sebagai usaha untuk membantu mereka, bahkan sebaliknya mereka menganggap usaha ini sebagai saingan.

Akhirnya proyek ”Bamboo processing” tidak dilanjutkan. Namun demikian, tanpa ”Bamboo processing” , dengan adanya perhatian dari pemerintah daerah berupa penyuluhan, pelatihan dan bantuan permodalan melalui Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (KUKM), industri bambu halus terus berkembang. Saat ini anyaman bambu halus merupakan salah satu produk unggulan dari Tasikmalaya di samping produk bordir, batik, payung kertas, tikar mendong, kelom geulis dan topi pandan.

This slideshow requires JavaScript.

Sejarah Anyaman Pandan Rajapolah

Sejarah anyaman pandan kecamatan Rajapolah dimulai sekitar tahun 1915an, dimana pada waktu itu banyak penduduk setempat yang membuat tikar. Tikar yang dibuat oleh penduduk itu disebut tikar aria, yang terdiri dari dua lapis agar terasa empuk bila diduduki. Lapisan atas lebih empuk (biasa disebut halusan) dari pada lapisan bawah (biasa disebut kasaran). Bahan pewarna yang digunakan pada waktu itu adalah bahan yang diambil dari alam, sehingga macam warnanya sangat terbatas. Warna-warna yang digunakan pada waktu itu antara lain, merah, coklat tua, merah darah, dan kuning.

Pada tahun 1920 muncul pembuatan tudung yang dipelopori oleh Haji Sidik, penduduk kampung Cibereko. Pada perkembangannya, usaha kerajinan ini mendapat bantuan dari bupati Tasikmalaya, antara lain dengan mengikut sertakan kerajinan anyaman Rajapolah dalam acara Jaareurs, atau yang biasa disebut sebagai pameran pasar malam. Pameran Jaareurs tersebut biasa diadakan di kota- kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Melalui Jaareurs inilah kerajinan anyaman Rajapolah dikenal ke luar daerah bahkan ke luar negeri, dan
pernah diekspor ke negeri Belanda.

Pada tahun 1925, beberapa orang Perancis mendidrikan suatu badan usaha yang diberi nama Olivier. Badan usaha ini membeli tudung dalam jumlah besar dengan harga yang cukup tinggi dibandingkan dengan harga penjualan biasa. Karena hal tersebut maka banyak penduduk menjadi perajin. Tetapi di kemudian hari Olivier bubar tanpa diketahui alasan yang jelas diikuti dengan pulangnya orang-orang Perancis tersebut ke negara mereka. Hal tersebut berpengaruh terhadap kehidupan para perajin, karena tidak ada lagi penampung yang besar. Usaha kerajinan masih berjalan dengan adanya pedagang-pedagang dari luar kota yang mengumpulkan barang-barang kerajinan untuk dijual di luar daerah. Selanjutnya usaha mulai mengalami penurunan produksi akibat tidak adanya pasar, sehingga banyak perajin mulai meninggalkan usaha mereka dan beralih untuk merantau ke luar daerah.

Pada tahun 1962, seorang perajin bernama Di’mat Sastrawiria mencoba membuat barang lain yang memiliki berbagai jenis kegunaan antara lain, tas, dompet, kipas, tempat pensil, dan lain-lain. Sejak itu usaha kerajinan anyaman mulai hidup lagi dan berkembang hingga sekarang. Tradisi menganyam secara turun menurun dikembangkan oleh generasi berikutnya hingga beberapa perajin berhasil mengembangkan usahanya di bidang pemasaran dan mendirikan badan usaha sendiri. salah satu badan usaha yang berhasil adalah perusahaan milik keluarga Ir.H.Yayang Waryan. Beliau mewarisi usaha kakeknya hingga berhasil menjadi produsen yang menghasilkan produk berdasarkan pesanan konsumen untuk pasar luar daerah, seperti Jakarta dan Bali. Beberapa produk beliau bahkan dipesan
secara khusus dan dipasarkan di luar negeri oleh pedagang asing.

Pada perkembangannya, sekitar tahun 1990an dimana kerajinan anyaman Rajapolah mengalami masa kejayaan, pedagang mempunyai peranan yang penting di dalam kegiatan kerajinan anyaman pandan, dari penyediaan bahan siap sampai pemasaran barang jadi. Berbeda dengan para perajin yang rata-rata hanya memiliki modal, alat-alat dan ketrampilan membuat kerajinan saja. Selain itu mereka rata-rata tidak mengetahui masalah pemasaran. Di lain pihak, pedagang (terutama pedagang barang jadi), rata-rata mempunyai modal yang cukup dan menguasai masalah pemasaran. Di dalam prinsip dagang, pedagang mengharapkan untung sebesar-besarnya tanpa melihat faktor lain. Akibatnya banyak perajin yang dirugikan. Tetapi sampai sekarang perajin masih menerima kehadirannya, karena belum ada penyalur lain yang benar-benar sanggup membagi untung secara adil.

Fenomena tersebut berlanjut hingga sekarang di era tahun 2000an yaitu persaingan usaha dalam skala internasional (pasar ekspor), dimana pedagang memesan barang dalam jumlah besar dengan desain yang sudah ada kemudian dikembangkan atau dengan desain baru dipesan secara khusus (confidential). Pemesanan dalam jumlah besar ini merangsang para pengusaha kerajinan untuk mendapatkan pesanannya dengan cara menurunkan harga. Pembayaran dilakukan dua tahap, yaitu dibayar sebagian pada awal (down payment) dan pembayaran akhir (pelunasan )

MENGUAK SEJARAH PERKEMBANGAN ANYAMAN PANDAN

Usaha kerajinan tradisional sebagai warisan budaya pada setiap suku bangsa Indonesia, cukup potensial dikembangkan. Bidang kegiatan tradisi bernilai ekonomi ini cukup potensial dalam penyerapan tenaga kerja. Disamping itu juga memberikan sumbangan bagi peningkatan pendapatan masyarakat.[1] Kerajinan yang dimaksud adalah proses pembuatan berbagai macam barang dengan mengandalkan tangan serta alat-alat sederhana di lingkungan rumah tangga. Keterampilan di dapat dari proses sosialisasi dari generasi secara informal. Bahan baku didapatkan dari alam sekitarnya.[2] Bagi daerah Sumatera Barat banyak faktor yang dapat menunjang pengembang produk industri kecil dan kerajinan antara lain:
1. Sumber alam berupa bahan baku berbagai jenis kayu, bambu, rotan bahan anyaman, hasil laut, bahan mineral dan sebagainya. 2. Sumber daya manusia yang tersedia, dengan tingkat upah relatif murah. 3. Keanekaragaman budaya tradisional yang spesifik dan memiliki nilai seni cukup tinggi. 4. Motif berbagai ragam flora dan fauna. 5. Perkembangan pariwisata yang cukup berarti dapat menjadi sarana dan media promosi produk industri kecil dan kerajinan.[3]
Kerajinan anyaman di Sumatera Barat tersebar hampir disetiap daerah diantaranya; Kabupaten Agam, Solok, Padang Pariaman, Sawahlunto, Sijunjung, Pasaman dan Pesisir Selatan.[4] Di Kabupaten Solok kerajinan anyaman terdapat antara lain di Paninggahan Muaro Pingai, Bukit Kandung, Batu Bajanjang, Simpang Tanjung Nan IV, Kampung Batu Banyak, Bukit Sileh, Sei Nanam, Talang Babungo dan Salimat.
Apabila ditinjau dari bahan baku yang digunakan pengrajin. Di daerah Kabupaten Solok dapat dikelompokkan atas empat jenis bahan dasar yaitu; bambu, rotan, pandan dan mensiang yang dikenal juga dengan kumbuah.[5] Jika ditelusuri lagi daerah-daerah di Sumatera Barat yang mengembangkan kerajinan anyaman dengan bahan dasar pandan antara lain; Matur Mudik (Kabupaten Agam), Paninggahan, Muaro Pingai dan Bukit Kandung (Kabupaten Solok), Pakandangan, Ulakan, Koto Tinggi, Pakan Baru (Kabupaten Pariaman), Padang Laweh (Kabupaten Sawahlunto Sijunjung), Bonjol (Kabupaten Pasaman), Kambang (Kabupaten Pesisir Selatan).[6]
Dari ketiga daerah yang mengembangkan kerajinan anyaman berbasis bahan dasar pandan di Kabupaten Solok. Paninggahan merupakan daerah yang paling produktif mengembangkan kerajinan ini. Sebagai indikator dapat dilihat dari angka penyerapan tenaga kerja dan jumlah produksi yang tercatat di tahun 1983/1984. Dimana Paninggahan menempati urutan teratas dengan menghasilkan 20.000 M2 dan menyerap 1.000 orang tenaga kerja perempuan. Disusul Muaro Pingai yang menghasilkan 3.000 M2 yang menyerap 150 0rang tenaga kerja perempuan. Berikutnya diikuti Bukit Kandung yang menghasilkan 1.200M2 menyumbang penyerapan tenaga kerja perempuan 50 orang .[7]
Dengan catatan angka-angka tersebut tampak perbandingan yang sangat mencolok baik dari sisi jumlah hasil produksi maupun sumbangan penyerapan tenaga kerja perempuan antara Paninggahan dengan Muaro Pingai dan Bukit Kandung. Sebagai ukuran sebuah statistik bolehlah untuk sebuah perbandingan produktifitas. Namun penulis tetap meragukan catatan-catatan angka tersebut. Sebab hingga tahun 1980-an aktivitas menganyam masih banyak dilakoni perempuan daerah ini, meskipun tidak lagi seperti ditahun 1970-an hingga kurun waktu sebelumnya. Bagaimana tidak, pada setiap hari pasar (kamis) di pasar nagari Paninggahan sebuah areal pasar terdapat khusus sebagai transaksi jual beli tikar pandan dari pengrajin kepada konsumen maupun ke pengepul. Kegiatan transaksi seperti itu terus terjadi setiap hari Kamis sebagai hari pasar daerah ini. Bahkan kalau terdesak akan kebutuhan pengrajin juga membawa tikar hasilnya anyamannya ke pasar Sumani di hari Minggu.

Menganyam: Identitas dan Warisan Tradisi Yang Terancam Punah

Malu dan tidak sempurna rasanya
menjadi perempuan asal Paninggahan kalau tidak bisa menganyam.
Ditegaskan lagi oleh orang-orang tua terdahulu dengan pernyataan;
‘jangan mengaku orang (perempuan) Paninggahan kalau tidak bisa menganyam’

Menganyam daun pandan menjadi tikar dilakukan hampir setiap rumahtangga di Paninggahan. Tapi itu kondisi dimasa tiga puluhan tahun yang lalu hingga masa sebelumnya.
Asal-usul dan kapan kerajinan anyaman pandan bermula di Paninggahan? pertanyaan yang sulit untuk diterangkan. Sumber tertulis untuk jawaban pertanyaan tidak tersedia. Adapun sejauh usaha penulis hanya dapat diterangkan dari penelusuran melalui jawaban sejarah dari tradisi lisan. Banyak informan memberikan penjelasan seragam dari wawancara yang dilakukan dari beragam tingkatan umur dan jenis kelamin. Informasi seragam itu menuturkan bahwa keterampilan mengolah dan menganyam daun pandan didapat secara turun temurun dari keluarga dan sosialisasi lingkungan.[8] Pekerjaan menganyam pada tahap awal diproduksi berupa tikar atau dalam istilah lokal lapiak juga kampia, sumpik dan sarung bantal.[9] Namun demikian Chistine Dobbin sekilas mengambarkan dalam bukunya ‘Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847’ akan keberadaan pedagang berkeliling yang menjajakan tikar pandan di sekitar Danau Singkarak. Aktivitas berdagang keliling seperti itu di sebut dengan bajojo. Lintasan fakta Dobbin itu setidaknya memberikan pemahaman bahwa kerajinan anyaman Paninggahan telah eksis sejak lama di abad-abad yang lalu. Meskipun Dobbin tidak secara tegas dan rinci menyebut nama daerah Paninggahan. Tapi dapat disimpulkan berdasarkan fakta bahwa daerah sekitar danau Singkarak yang aktif dan membudaya aktivitas menganyamnya adalah Paninggahan.
Pada tahap awal hasil pekerjaan tangan itu untuk memenuhi kebutuhan sendiri dilingkungan rumahtangga dan kerabat. Terbukanya peluang pasar dan berbagai tuntutan ekonomi, kerajinan anyaman pandan Paninggahan kemudian menjadi salah salah satu sumber penghasilan dengan cara memperdagangkannya. Tidak dapat disangkal, menganyam daun pandan menjadi sumber ekonomi tambahan maupun pokok sejalan dengan kegiatan pertanian. Aktivitas menganyam mempertegas bahwa rumahtangga petani tidak bergantung pada usaha tani semata. Mereka juga bekerja diluar kegiatan ekonomi bertani dan beternak sebagai salah salah satu bentuk strategi keberlangsungan ekonomi rumahtangga. Oleh karena itu tumbuhnya sektor industri di pedesaan terutama industri kecil dan rumahtangga sangat penting artinya karena kegiatan tersebut memberikan peluang berusaha, merangsang pertumbuhan ekonomi dan mampu menekan migrasi tenaga kerja keluar pedesaan.[10] .
Pekerjaan menganyam di Paninggahan merupakan dominasi kaum perempuan. Dari banyak tahapan pengolahan bahan mentah hingga masuk pasar nyaris dilakoni utuh oleh kaum hawa di daerah ini. Usaha ini merupakan matapencaharian alternatif, sehingga perekonomian keluarga tidak semata bergantung pada sektor pertanian beternak dan berdagang. Pekerjaan menganyam dilakukan secara sambilan secara rutin untuk mengisi waktu luang setelah pulang membantu kaum laki-laki mengolah lahan pertanian keluarga.[11] Biasanya pekerjaan menganyam dilakukan pada sore hari hingga jelang tidur, bahkan larut malam.[12] Perempuan terlibat secara penuh dalam usaha kerajinan ini. Mulai dari mendapatkan, pengolahan bahan baku pandan, proses pembuatan hingga membawa produk ke pasar untuk dipasarkan. Peran ditingkat pedagang pengepul hingga pedagang pengecer pun masih diambil alih oleh kebanyakan perempuan. Fenomena berdagang keliling atau dalam istilah setempat manggaleh babelok dan bajojo anyaman berupa tikar pandan marak dilakoni perempuan dimasa lalu. Berjualan keliling dengan bajojo menawarkan barang dagangan dari rumah ke rumah di lakukan ke berbagai tempat di Sumatera Barat (Minangkabau) terutama dimasa sulit karena berbagai keterbatasan. Terlebih masa pergolakan kemerdekaan hingga pasca PRRI hingga tahun 1960-an.[13]
Memasuki tahun 1980-an usaha kerajinan anyaman pandan memperlihat gejala melemahnya akan keberlangsungan tradisi di Paninggahan. Banyak faktor penyebab, hal positif yang bermuara baik pun menjadi negatif dampaknya terhadap aktivitas menganyam di Paninggahan. Misalnya saja kondisi pertanian yang semakin membaiknya terutama sawah setelah ditopang irigasi teknis sejak tahun 1982, penggunaan pupuk kimia, pestisida pemberantas hama penyakit tanaman serta bibit unggul. Kegiatan bertanam padi pada masa sebelumnya hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun menjadi lebih intensif. Dengan dukungan berbagai kemajuan teknologi dan pengetahuan bertani, telah menyita banyak waktu dan perhatian masyarakat mengurus lahan pertanian mereka.
Alih fungsi lahan sebagai tempat tumbuh kembang habitat tanaman pandan juga tidak terelakkan. Sebanding dengan angka pertumbuhan penduduk Paninggahan, desakan kebutuhan hunian bagi keluarga yang memerlukan lahan. Tidak jarang lahan yang ditumbuhi tanaman pandan dibabat untuk keperluan pembangunan perumahan. Kondisi seperti itu terus terjadi, apalagi jika budaya menganyam telah terputus dalam sebuah keluarga. Lahan yang dulu ditanami pandan dinggap hanya semak dan perlu dibersihkan atau dialih fungsikan untuk keperluan lain seperti untuk membangun rumah, menanam tanaman yang dianggap lebih produktif dan bernilai lebih.
Faktor yang lebih memprihatinkan adalah dari generasi muda terutama remaja yang enggan untuk mempelajari dan menerima keterampilan menganyam. Padahal menganyam sudah berpuluh tahun berlalu membudaya di Paninggahan. Kondisi itu semakin diperkuat dengan arus modernisasi dan globalisasi yang salah tafsir . menerobos hingga ke pelosok pedesaan melalui berbagai media dan sarana. Modernisasi pendidikan misalnya. Pelajar disibukkan dan daya filterisasi masyarakat yang lemah telah megubah cara pandang. Paradigma yang baru adalah baik dan yang lama dan berbau tradisional adalah kuno dan ketinggalan zaman tercermin disini. Pandangan dimasa yang lalunya ‘malu bila tidak bisa menganyam sekarang menjadi malu dan gengsi kalau melakukan aktivitas menganyam’.
Modernisasi pendidikan sekolah dengan segal beban tugas belajar yang mesti dikerjakan hingga ke rumah sepulang sekolah. Alam kehidupan desa yang banyak keterbatasan juga menuntut setiap individu dalam keluarga mesti bekerjasama, terlibat dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumahtangga dalam upaya memenuhi kebutuhan bersama. Dengan demikian antara bersekolah, tugas sekolah dirumah dan tugas rumah yang senantiasa menunggu. Terlebih bagi keluarga-keluarga dalam kondisi ekonomi lemah dan pas-pasan. Bagaiamana mungkin lagi waktu dan tugas yang demikian tersisa untuk belajar dan mendalami keterampilan menganyam yang sempurna.
Persepsi menganyam sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi, pekerjaan yang cocok dan layak dikerjakan oleh orang-orang tua atau dalih sulit mempelajari keterampilan menganyam menjadi menjalar luas. Bersekolah, jikalau tidak merantau ikut suami atau sanak famili menjadi harapan baru.
Kemajuan teknologi industri yang menciptakan produk massal berupa tikar-tikar plastik dengan aneka desain, warna dan corak motif banyak sedikitnya telah mencuri perhatian dan menggeser selera masyarakat untuk beralih menggunakan produk moderen ini. Produk dari bahan plastik mampu mengggeser eksistensi kerajinan anyaman pandan ditengah masyarakat Paninggahan. Produk sentuhan teknologi canggih itu jelas lebih praktis, murah, warna, model dan bentuknya punya banyak pilihan.[14] Demikian penegasan dari kenyataan yang sedang dihadapi produk anyaman pandan Paninggahan dalam sebuah laporan penelitian Bappeda Sumatera Barat pada tahun 1976. Semakin lengkap tampaknya serangan dan ancaman bagi anyaman pandan produk berbasis tradisi dan budaya.

Diversifikasi: Pertahankan Eksistensi Anyaman Pandan Paninggahan

Menyadari berbagai kekuatan yang dapat menggeser atau bahkan mematikan potensi kerajinan anyaman pandan ditengah masyarakat pendukungnya di Paninggahan. Melihat kenyataan itu pada tahun 1988 Perintah Daerah Kabupaten Solok melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan bekerjasama dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Paninggahan menyelenggarakan program pelatihan diversifikasi produk anyaman pandan. Diversifikasi produk merupakan salah satu upaya mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa. Selain memiliki nilai budaya, seni terlebih lagi nilai ekonomi, aktivitas menganyam ternyata juga mampu menyediakan lapangan pekerjaan mandiri hingga terorganisir. Dengan demikian jenis pekerjaan ini mampu meminimal angka pengangguran dan menambah pendapatan masyarakat.
Di tahun 1988, pemerintah Kabupaten Solok melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangannya memfasilitasi masyarakat mempelajari dan mendalami seluk beluk diversifikasi produk anyaman pandan ke Tasik Malaya Jawa Barat. Sosok yang diberi kesempatan itu adaalh Misnawati Mukhtar. Misnawati Mukhtar diberi kesempatan dengan pertimbangan bahwa diantara sejumlah peserta pelatihan diversifikasi lokal Misnawati Mukhtar dinilai memiliki daya inovasi dari hasil pelatihan yang dilaksanakan selama pelatihan dalam waktu singkat ditingkat lokal itu. Lebih dari mempelajari dan mendalami seluk beluk bentuk diversifikasi produk anyaman pandan, Misnawati Mukhtar diharapkan dapat menjadi fasilitator didaerahnya kelak.
Tasik Malaya menajdi pilihan, karena diversifikasi kerajinan anyaman pandan disana sudah berkembang jauh lebih baik dan maju. Kerajinan anyaman pandan didaerah ini sudah beraneka ragam, mampu dirubah keberbagai bentuk barang kebutuhan dan souvernir. Sementara di Paninggahan masih monoton, hanya tikar dominan bernilai ekonomi. Seperti apa yang diwarisi dari satu generasi ke generasi tidak jauh berubah dalam soal motif. Kecuali perubahan pemakaian warna dari pewarna dari bahan alami ke pewarna buatan.
Sementara Tasik Malaya variasi-variasi motif, keanekaragaman produk, pemasaran yang lebih luas, modal yang digunakan pengrajin sudah beragam karena dapat dukungan berbagai pihak untuk mempertahan dan mengembangkan kerajinan yang bernilai dalam banyak hal. Inilah kekuatan kerajinan anyaman pandan Tasik Malaya yang telah teroganisir.
Dua minggu waktu yang belum cukup bagi Misnawati Mukhtar untuk menguasai secara utuh model pengembangan diversifikasi produk anyaman pandan seperti halnya Tasik Malaya. Akar budaya dan potensi masing-masing daerah tentu akan mempengaruhi penerapan model diversifikasi seperti apa yang bisa diterima konsumen. Kepergian pada kali pertama itu telah menumbuhkan semangat dan memblatkan tekat Misnawati untuk menguasai lebih jauh soal diversifikasi produk anyaman pandan. Hatinya kian yakin bahwa anyaman pandan Paninggahan bisa bernilai lebih kalau dikembang tepat sasaran sesuai selera pasar dan konsumen. Oleh karena itu itu, Misnawati pada kesempatan kedua secara mandiri melanjutkan belajar selama satu minggu pengembangan produk anyaman pandan ke Tasik Malaya.[15]
Pembinaan terus diintensifkan dalam upaya meningkatkan mutu dan kwalitas produk anyaman pandan Paninggahan. Apalagi diversifikasi merupakan formula baru bagi sejarah perkembangan anyaman pandan Paninggahan. Pada tahun 1993 pemerintah Kabupaten Solok melanjutkan pembinaan dengan membentuk kelompok-kelompok pengrajin. Enam kelompok pengrajin terbentuk yang tersebar di Nagari Paninggahan dalam Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok adalah: diantaranya kelompok Perdana, Mutiara, UPPKA, Janur Kuning, Dahlia di Kecamtan Junjung Sirih. Sementara dua kelompok pengrajin Melati dan Mawar berada di daerah Muaro Pingai.[16]
Agar lebih teroganisir, tahun 1995 dibentuk ‘Asosiasi Pandan Serumpun’ sebagai induk organisasi kelompok pengrajin.Kelompok-kelompok pengrajin melebur kedalam asosiasi ini. ‘Asosiasi Pandan Serumpun’ menjadi sarana dan wadah komunikasi untuk saling bertukar informasi antar sesama kelompok pengarajin dan dengan berbagai instansi pemerintah atau swasta yang memberikan dukungan dan motivasi.
Dengan tekat dan dukungan dari berbagai pihak, sentuhan diversifikasi, akhirnya menghantarkan kerajinan anyaman pada babak perkembangan dalam wajah yang berbeda tanpa mengkensampingkan keberadaan tradisi lama. Hasilnya, kerajinan anyaman pandan Paninggahan menjadi salah satu produk kerajinan unggulan di Kabupaten Solok bahkan Sumatera Barat.[17] Pasarnya terbukti melampau batas negara hingga ke Eropa. Keunggulan-keunggulan dari segi teknis barangkali dapat diserap pengrajin daerah lain. Namun varietas pandan yang tumbuh didukung habitat lingkungan, tempat tumbuh pandan di Paninggahan yang lebih baik.
Seperti apa dan bagaimana proses anyaman pandan Paninggahan mencapai diversifikasi? Lalu siapa dan bagaimana perjalanannya hingga bisa mengakat anyaman pandan Paninggahan yang mulai redup ? Untuk mendapatkan jawabab itu semua ada baiknya pembaca, pemerhati dan pecinta produk anyaman pandan mengikuti bagian tulisan yang mengupas sosok, usaha dan perannya dalam mendiversifikasi anyaman pandan Paninggaham di Kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok Sumatera Barat Indonesia.

[1] Zaiful Anwar, dkk., Pengrajin Tradisional Daerah Sumatera Barat. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. Hlm.1.
[2] Usria Dhavida dan Lisa Sri Dwiyanti., Kerajinan Anyaman Pandan Di Sumatera Barat. (Padang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Propinsi Sumatera Barat ‘Adhityawarman’, 1997). Hlm. 7.
[3] M.Syafiudin L. Lubis., Strategi dan Peluang Pasar Industri Kecil dan Kerajinan Sumatera Barat Dalam dan Luar Negeri. Makalah Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Propinsi Sumatera Barat, 1996. Hlm. 1-2.
[4] Tanpa nama pengarang., Pola Kebijaksanaan Pemasaran Hasil Pertanian dan Industri Kerajinan Sumatera Barat. Laporan penelitian (Padang: Bappeda Sumatera Barat, 1976). Hlm. 189.
[5] Diolah dari., Kabupaten Solok Dalam Angka. Solok: Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappeda, 1983/1984). Hlm. 166-167.
[6] Tanpa nama pengarang. Op. cit. Hlm. 189
[7] Ibid.,
[8] Wawancara dengan Rosliana dan Niar, pada tanggal 6 Agustus 2003, di Jorong Kampung Tangah Nagari Paninggahan.
[9] Lapiak merupakan sebutan lokal masyarakat Paninggahan terhadap hasil anyaman pandan berupa tikar. Kampia banyak memiliki fungsi sebagai tempat beras, sirih dan peralatan atau barang. Bentuknya pun bervariasi, ada yang dibuat bulat sebesar bahkan lebih besar dari toples. Adakalanya bentuknya menyerupai kubus yang salah satu sisinya terbuka atau berbentuk ruang empat persegi tergantung kegunaannya. Untuk lebih menarik kampia diwarnai dan diberi motif-motif tertentu seperti geometris. Sumpik seperti halnnya kampia, namun berukuran lebih besar layaknya karung yang terbuat dari bahan plastik maupun serat. Jauh sebelum masyarakat mengenal dan menggunakan karung berbahan plastik atau serat, anyaman pandan lebih dulu mengambil peran untuk menyimpan barang terutama sebagai tempat padi dan beras.
[10]Ken Suratiyah., Pengorbanan Wanita Pekerja Industri. Dalam Irwan Abdullah, (Editor)., Sangkan Paran Gender. (yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997). Hlm. 22
[11]Tanpa nama pengarang., op cit. Hlm. 188.
[12]Wawancara dengan Niar, pada tanggal 6 Agustus 2003, di Jorong Kampung Tangah Nagari Paninggahan.
[13]Wawancara dengan Miah, pada tanggal 26 November 2003, di Lubuk Panjang Dusun Cacang-Batua Jorong Subarang Nagari Paninggahan.
[14]Tanpa nama pengarang., op cit. Hlm. 188.
[15]Wawancara dengan Misnawati Mukhtar, pada tanggal 4 Agustus 2003, di Jorong Gando Nagari Paninggahan. Lihat juga., Jumadi., Misnawati Mengubah Daun Pandan Menjadi Bernilai Ekonomi Tinggi. (Tabloid Limbago Nusantara, Edisi Perdana, Padang, 1996). Hlm. 25
[16]Suhafni Duski., Profile Beberapa Kelompok Industri Rumahtangga DI Paninggahan dan Saning Bakar, Kecamatan X Koto Singkarak. (Pemerintah Kabupaten Solok Pro-RLK Sektor Perindustrian Bappeda Kabupaten Solok, 1995). Tanpa nomor halaman.
[17]Wawancara dengan A. Rusmi, pada tanggal 5 Agustus, di Solok.

Menilik Sejarah Rotan Indonesia

Rotan di Indonesia memiliki sejarah yang panjang, keberadaannya sendiri sudah berabad-abad lamanya. Jaman dahulu rotan dianggap sebagai barang mewah bermakna politis-ekonomis sehingga sering dibawa sebagai seserahan bagi raja di negeri seberang. Misalnya pemberian “sepikul rotan” di masa Sriwijaya kepada salah satu kerajaan di India, “baju perang rotan” yang menandai hubungan baik Majapahit-China, “rotan putih” yang menjadi pengikat kerajaaan-kerajaan di Semenanjung Sumatera (Pasai) di awal munculnya kerajaan Islam-India. Pada masa penjajahan, rotan telah menjadi komoditas dagang yang bernilai ekonomis tinggi. Buktinya, orang Belanda yang masuk ke wilayah Kerajaan Kutai mulai membeli rotan dengan cara barter terutama dengan bahan pokok, kain dan lain-lainnya.

Secara detail tulisan tentang sejarah perkembangan budidaya dan perdagangan rotan memang sangat minim ditemukan, namun narasumber yang dapat bercerita tentang rotan masih begitu banyak dan bisa dijumpai di desa/kampung. Di Kutai Barat contohnya, etnis yang membudidayakan rotan khususnya adalah etnis Kutai dan Dayak. Masyarakat Kutai dan Dayak banyak menggunakan rotan sebagai bahan pengikat bangunan rumah dan kebutuhan peralatan rumah tangga lainnya. Hal ini mendorong masyarakat menanam dan membudidayakan rotan sesuai dengan jenis-jenis yang memang sering dipakai seperti ; rotan Sega, Jahap, Seltup, Pulut Putih, Pulut Merah dan Manau.

Menurut catatan sejarah yang dibuat oleh K. Heyne dalam “De Nuttige Planten Van Indonesia”, disebutkan bahwa jenis rotan yang pertama kali dibudidayakan di Indonesia adalah jenis rotan Sega. Pembudidayaan dilakukan sebagai antisipasi kelangkaan rotan karena pada saat itu jenis rotan Sega semakin lama semakin sulit dicari apalagi letaknya makin jauh dari pinggir desa dan pinggir sungai. Kebun rotan yang pertama kali yang didirikan dan secara otomatis menjadi perintis dalam pembudidayaan rotan di Indonesia, terletak di wilayah sekitar desa Mengkatip dekat kota Buntok, dan daerah sekitar desa Dadahup, Kapuas, keduanya berada di Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan pembudidayaannya telah mulai dilakukan sekitar tahun 1850. Di daerah Palembang pembudidayaan rotan mulai dilakukan sejak tahun 1905. Saat itu terdapat banyak ladang-ladang bekas perladangan berpindah yang setelah dipanen lebih dari 2–3 kali menjadi tak subur lagi sehingga ditanami dengan tanaman karet dan tanaman rotan. Selain itu kawasan hutan negara masih luas dan penduduknya masih cenderung sedikit sehingga petani banyak membuka lahan baru untuk ditanami rotan.

Diketahuinya manfaat dan kegunaan rotan secara luas membuat rotan menjadi populer dan bernilai ekonomi tinggi sehingga menjadi salah satu sumber penghasilan bagi daerah-daerah penghasil rotan terutama di luar pulau Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra. Rotan mulai diperdagangkan secara luas antar pulau bahkan antar negara sejak tahun 1918. Permintaan akan rotan terus meningkat dan sebanyak-banyaknya serta ada permintaan jenis baru sehingga jenis yang ditanam juga semakin banyak. Tingginya nilai jual rotan dan tingginya permintaan semakin mendorong para petani untuk membudidayakan rotan secara besar-besaran sampai pada tahun 1980-an. Waktu itu harga 1 kg rotan Sega senilai dengan 1 liter bensin atau 1 kg beras. Petani mengalami masa keemasan saat itu. Apalagi dengan tidak adanya komoditas yang mampu menyaingi rotan saat itu, rotan semakin merajai pasar.

Namun setelah tahun 1987 hingga sekarang harga rotan menjadi tidak sebanding lagi. Hal ini akibat dari ditutupnya keran ekspor rotan ke luar negri dan kebijakan Pemerintah tentang ekspor rotan yang berganti-ganti setiap berganti kepemimpinan dan cenderung menguntungkan pihak-pihak tertentu yang tentunya bukan petani. Rotan yang pernah mengalami masa keemasannya semoga saja tidak menjadi ‘tinggal sejarah’.

http://kpshk.org

%d bloggers like this: