Sentra anyaman Rajapolah: Aneka anyaman pandan tersedia di sini

Jika datang ke Tasikmalaya, mampirlah ke Desa Rajapolah, 12 kilometer utara kota Tasikmalaya. Di desa itu ada 50 pedagang yang berjejer menjual kerajinan daun pandan dan daun mendong yang sudah dibentuk menjadi tas, sandal, topi, sajadah, tikar, dan masih banyak lagi.

Jika berkunjung ke Tasikmalaya tak lengkap rasanya kalau Anda tak menyambangi sentra perdagangan kerajinan daun pandan dan daun andong yang terletak di desa Rajapolah. Daerah itu sudah lama terkenal sebagai sentra perdagangan kerajinan itu.

Kerajinan anyaman yang dijual pedagang beragam bentuknya. Mulai dari tas, sandal, tikar, topi, sajadah, dan beragam bentuk lainnya. Lokasi sentra itu sendiri berada di sepanjang Jalan Raya Rajapolah, sekitar 12 kilometer sebelah utara kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Di sentra kerajinan ini sedikitnya ada 50 kios yang menjual beragam anyaman. Mereka memajang aneka anyaman tangan itu dari ratusan perajin anyaman yang kebanyakan warga Rajapolah dan desa-desa sekitarnya.

Bagi warga Tasikmalaya sentra ini memang sudah tak asing lagi. Maklum, sentra ini sudah ada sejak 1980-an silam. Saat itu beberapa warga Rajapolah yang ahli menganyam mulai menggelar hasil kerajinan di sepanjang Jalan Raya Rajapolah itu.

Mulanya hanya ada dua orang warga saja yang berjualan. Namun ide dua warga itu menginspirasi warga lainnya untuk ikut berdagang dengan membuka kios.

Kehadiran pedagang tak lepas dari pilihan lokasi yang prima. Sebab, mereka berjualan kerajinan di akses jalan utama menuju ke Kota Tasikmalaya.

Jika Anda dari arah Nagreg, Kabupaten Bandung, lokasi bisa dijumpai sebelum memasuki kota Tasikmalaya. “Jualan di lokasi itu memang laris,” kata Rifky, pengelola kios Keisya Handycraft yang berjualan aneka anyaman sejak 2006.

Sebelum berdagang anyaman, Rifky dan keluarganya memang sudah menjadi perajin anyaman. Namun, ketika itu keluarga ini lebih banyak menjual hasil anyaman ke Tasikmalaya. “Sekarang kami jual sendiri saja,” terang Rifky.

Pedagang kerajinan di sentra Rajapolah lainnya adalah Tini Wartini, pemilik Jelita Art Shop. Tini sudah berjualan kerajinan anyaman itu sejak 20 tahun lalu. Saat pertama kali berjualan, Tini hanya menggelar dagangan dengan meja tanpa ada bangunan kios seperti sekarang.

Saat merintis usaha, produk kerajinan yang dijual Tini laris dibeli pengendara mobil yang melintasi Jalan Raya Rajapolah. Sejak itulah usaha Tini berkembang hingga saat ini. “Tapi kini sebagian pedagang sudah ada yang tutup,” kata Tini yang sekarang sudah memiliki dua kios di sentra itu.

Menurut Tini, pedagang yang gulung tikar terjadi baru-baru ini. Mereka menutup usaha karena tak kuasa menghadapi kompetisi antarpedagang yang kian banyak. “Pedagang banyak, kompetisi harga marak,” kata Tini.

Dalam berjualan, Tini selain membeli kerajinan dari perajin dan juga dari pedagang pengumpul. Ia bilang, pedagang kerajinan di Rajapolah membantu ekonomi warga Rajapolah, mulai dari perajin, pedagang daun pandan dan juga pedagang pengumpul.

Hal itu diakui oleh Siti Juhaenah, pedagang pengumpul kerajinan di sentra Rajapolah. Siti sudah 12 tahun lamanya memasok aneka kerajinan ke puluhan toko kerajinan di sentra kerajinan ini. “Hampir 80% warga Rajapolah itu berprofesi sebagai perajin anyaman,” terang Siti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: